WARTALENTERA-Fakultas Seni Pertunjukan ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Bandung berencana membuka prodi (program studi) Seni Pencak Silat. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik dan mendukung rencana penyelenggaraan program studi seni pencak silat tersebut, menyusul pengakuan UNESCO atas Seni Tradisi Pencak Silat.
“Menurut saya memang harus ada sekolah-sekolah tinggi yang mengenalkan pengetahuan-pengetahuan tradisional Indonesia,” kata Menbud dalam keterangan resminya di Jakarta, dikutip Rabu (4/6/2025). Ia menilai, dari sisi strategis, Indonesia bisa menjadi jembatan kerja sama internasional dalam bidang pelestarian warisan budaya.
Ketertarikan ISBI Bandung untuk membuka prodi khusus pencak silat itu, kata Fadli, dapat menjadi rujukan global untuk studi seni pencak silat dan seni tradisi lainnya. Hal itu disampaikan Menbud saat menerima kunjungan dari perwakilan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, serta pelaku budaya dan pesilat dari Jawa Barat.
Selain membicarakan soal pembukaan Prodi Seni Pencak Silat, dalam pertemuan tersebut juga didiskusikan kemungkinan dibuatnya Academy of Arts, di kantor perwakilan Indonesia di UNESCO. Menurut Fadli Zon, diperlukan upaya melembagakan dan menginstitusionalisasikan sebuah budaya atau produk budaya guna mencegah perselisihan di Indonesia.
Sementara itu, perwakilan ISBI Bandung Yoyo Dasono menyebut, belum adanya institusi pendidikan tinggi yang secara khusus mencetak sarjana Pencak Silat dengan kompetensi akademik yang komprehensif, mendorong pihaknya untuk menjadi inisiator pembukaan prodi unik tersebut. Sebab, ia melihat, ada kesenjangan antara status internasional pencak silat sebagai warisan budaya dunia dengan ketersediaan sumber daya manusia berkualifikasi tinggi.
Program studi ini diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu menjadi agen pembangunan karakter bangsa melalui nilai-nilai Pencak Silat. Melalui program ini, diharapkan juga dapat berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) UNESCO, khususnya dalam bidang pendidikan berkualitas, pelestarian budaya, dan pembangunan berkelanjutan.
Program tersebut nantinya akan menjadi visi jangka panjang sekaligus pondasi bagi pengembangan Academy of Arts UNESCO. “Diharapkan bisa memperkuat posisi Indonesia sebagai guardian dan developer warisan budaya tak benda di tingkat global,” harapnya. (sic)


