x wartalentera.com skyscraper
x wartalentera.com skyscraper

Efek Buruk Vaping Setara Hisap Rokok Tembakau, Ini Kata Peneliti Kesehatan

WARTALENTERA - Tren vaping atau menghisap vape (rokok elektrik) ternyata memiliki risiko kesehatan yang tidak kalah serius dengan rokok konvensional. Meski digadang-gadang sebagai alternatif "yang lebih aman" dibanding rokok tembakau, berbagai penelitian kesehatan membuktikan sebaliknya.

Menurut dr Adhi Pasha, melansir tanya jawab di laman Alodokter, Kamis (14/11/2024), rokok elektrik menurut beberapa instansi dan organisasi international dan beberapa penelitian menuliskan, bahwa nge-vape tidak lebih baik dan lebih aman dibanding merokok konvensional. "World Health Organization (WHO) membuat laporan berisi anjuran untuk tidak menggunakan rokok elektrik karena dapat menimbulkan zat kimia berbahaya yang tidak kalah berbahaya dibanding rokok tembakau," tulisnya di kolom jawaban dari seorang penanya.

Lebih lanjut ia menulis, cairan rokok elektik atau liquid vapor juga terdapat kandungan nikotin, propilen glikol, gliserin dan perasa yang dapat menimbulkan kecanduan. Sedangkan gliserin dan glikol sendiri merupakan campuran yang menimbulkan rasa manis pada rokok elektrik yang menurut lembaga pengawas makanan dan obat amerika atau FDA aman dikonsumsi jika dalam kadar rendah pada orang normal.

"Tapi berbeda jika digunakan pada penderita diabetes. Untuk penggunaan pada orang diabetes sendiri tentunya tidak disarankan walaupun belum ada penelitian yang menuliskan mengenai efek kandungan liquid vapor terhadap penderita diabetes terlebih dalam jumlah yang cukup banyak," imbuhnya.

Menurutnya, rokok elektrik saja pada orang normal dapat memberi efek yang kurang baik apalagi pada penderita diabetes. "Maka sebaiknya dihindari penggunaannya. Beberapa peneliti juga menemukan bahwa rokok elektrik dapat memicu infeksi paru dan meningkatkan risiko asma, stroke, dan penyakit jantung," terangnya lagi.

Melansir laman Bloomberg, Kamis (14/11/2024), dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopskin, Amerika Serikat, yang dimuat dalam The American Journal of Preventive Medicine tahun 2022, dilaporkan bahwa penggunaan rokok elektrik (vaping) ternyata juga dapat meningkatkan risiko diabetes. Hal ini tak jauh berbeda dengan risiko yang disebabkan dari rokok tradisional.

Menurut studi tersebut, seseorang yang sering atau memiliki kebiasaan vaping memiliki risiko lebih tinggi terhadap peningkatan kadar gula darah (kadar gula darah tinggi), atau dalam istilah medis disebut dengan pradiabetes. Meski bersifat reversible, pradiabetes sering kali dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2 dan komplikasi serius lainnya, jika tidak ditangani sesegera mungkin.

Lebih lanjut, studi yang melibatkan sekitar 600 ribu responden tersebut juga menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki kebiasaan menggunakan rokok elektrik memiliki risiko sekitar 22 persen lebih tinggi terkena pradiabetes daripada yang tidak menggunakannya. Angka ini tak jauh berbeda dengan risiko diabetes pada penggunaan rokok tradisional, yang mencapai 30 hingga 40 persen.

Masih dalam studi yang sama, diterangkan bahwa risiko pradiabetes dari liquid vape ini timbul dari adanya nikotin dalam rokok elektrik tersebut. Dr Shyam Biswal, penulis utama dalam studi menyebutkan, dalam kasus merokok, nikotin memiliki efek buruk pada kerja insulin, dan tampaknya rokok elektrik juga memiliki efek yang sama, seperti dilansir U.S. Pharmacist.

Laman Everyday Health menambahkan, kebiasaan vaping memungkinkan seseorang untuk menghirup nikotin yang secara medis dapat memengaruhi kadar gula darah. Nikotin dapat meningkatkan kadar hemoglobin A1C, yaitu suatu zat yang terbentuk ketika glukosa (gula) dalam tubuh menempel pada sel darah merah.

Terbentuknya hemoglobin A1C merupakan tanda bahwa tubuh tidak bisa menggunakan gula dengan baik sehingga menempel pada sel darah. Peningkatan hemoglobin A1C inilah yang kemudian dapat memicu diabetes.

Memang, tidak semua produk vape diproduksi dengan kandungan nikotin. Di pasaran, terdapat beberapa produk liquid vape atau rokok elektrik tanpa nikotin.

Namun, rokok elektrik tanpa nikotin juga dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan. Hal ini karena kandungan bahan-bahan di dalamnya yang tidak banyak diketahui, seperti salah satunya zat perasa. Rokok elektrik juga menghasilkan asap, tar, serta karbon monoksida yang berbahaya, seperti dijelaskan laman GoodRX Health.

Pada studi lain yang dimuat dalam jurnal Atherosclerosis tahun 2016, disebutkan bahwa penggunaan rokok elektrik juga dapat menyebabkan mobilisasi sel progenitor endotel (EPC). Mobilisasi yang berulang dan kronis dapat mengurangi jumlahnya di dalam tubuh. Lukas Antoniewicz, penulis utama studi tersebut menjelaskan, tingkat EPC yang lebih rendah juga dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskuler dan diabetes tipe 2.

Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa menurut studi terbaru, liquid vape dapat meningkatkan risiko pradiabetes, yang merupakan awal dari diabetes. Walau tidak menjadi penyebab secara langsung, risikonya penting untuk diwaspadai.

Para peneliti memang menyarankan untuk adanya penelitian lebih lanjut terkait hal ini untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Namun, mereka juga menyebut bahwa hasil temuan studi ini bisa menjadi peringatan yang serius, terutama bagi pengguna vape aktif. (sic)

Berita Terbaru
Senin, 08 Jun 2026 22:07 WIB

Shin Tae-yong Resmi Dipinang Persija Jakarta

WARTALENTERA - Shin Tae-yong (STY) akhirnya berlabuh di Persija Jakarta. Pelatih asal Korea Selatan itu bakal menjadi pelatih kepala baru mereka mulai musim
Senin, 08 Jun 2026 11:57 WIB

Rangkaian Gempa Bumi di Sulawesi Bukan Karena Megathrust

WARTALENTERA - Aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina diprediksi yang menyebabkan rangkaian gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 di Laut Sulawesi yang
Senin, 08 Jun 2026 08:23 WIB

Profesor Johan Silas, Tokoh Arsitek Ini Berpulang

WARTALENTERA - Profesor Johan Silas, tokoh arsitek dan pendidikan Indonesia tutup usia. Prof Silas dikabarkan meninggal hari ini, Senin (8/6/2026) melalui
Minggu, 07 Jun 2026 18:38 WIB

Huntara Ini Menampung Korban Bencana Tanah Bergerak

WARTALENTERA - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memantau perbaikan Hunian Sementara (Huntara) bagi korban bencana tanah bergerak di Desa Padasari,
Sabtu, 06 Jun 2026 15:28 WIB

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Kurangi Efek Rumah Kaca

WARTALENTERA - Menandai momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema nasional "Saatnya Beraksi untuk Iklim", PT Jasa Marga (Persero) Tbk
Sabtu, 06 Jun 2026 10:15 WIB

38 Tahun Penantian Itu Berbuah Manis!

WARTALENTERA - Timnas Indonesia bikin gegap gempita seluruh Gelora Bung Karno (GBK) tadi malam. Setelah penantian selama 38 tahun, akhirnya tim Garuda mampu