x wartalentera.com skyscraper
x wartalentera.com skyscraper

Aktivis Global Sumud Flotilla Dibebaskan, Bantuan Tidak Pernah Sampai di Gaza

Editor :

WARTALENTERA - Aktivis, politikus, dan jurnalis yang tergabung dalam aksi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) memberikan kesaksian kekejaman zionis Israel selama mereka ditahan.

Disebutkan, para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) mengalami beragam siksaan dalam tahanan Israel. Mereka ditahan usai kapal pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza itu dibajak militer Israel.

Tim kuasa hukum para aktivis, mengungkap berbagai pelanggaran serius yang dilakukan Israel terhadap para aktivis, di antaranya melakukan kekerasan fisik hingga melarang akses terhadap obat-obatan.

Informasi penyiksaan itu muncul beberapa hari setelah tim kuasa hukum mengatakan beberapa aktivis yang ditahan dipaksa berlutut dengan tangan terikat kabel selama setidaknya lima jam. Tercatat, ada lebih dari 80 peserta GSF selama dua hari terakhir di Penjara Ktziot, di Israel selatan.

Menurut kesaksian para aktivis kemanusiaan, Israel menghalangi mereka mendapatkan obat-obatan penting, termasuk resep untuk tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan kanker.

Para peserta ditahan di sel yang penuh sesak, dan beberapa peserta dipaksa tidur di lantai dalam kondisi yang keras dan tidak sehat.

Otoritas Israel menggunakan kekerasan fisik terhadap beberapa tahanan, hingga tangan salah satu aktivis terluka. Peserta GSF lainnya ditutup matanya dan diborgol untuk waktu yang lama.

Kementerian Luar Negeri Israel membantah menyiksa para aktivis seraya menuding kesaksian itu merupakan kebohongan. Negeri Zionis itu mengklaim memenuhi seluruh hak hukum para aktivis kemanusiaan yang mereka culik secara ilegal, kemudian dijebloskan ke penjara. "Semua hak hukum para tahanan sepenuhnya ditegakkan," klaim Kemlu Israel di X.

Kementerian Luar Negeri juga mengklaim mereka memberikan makanan, minuman dan obat-obatan yang dibutuhkan para aktivis dari berbagai negara itu. "Tentu saja mereka menerima makanan, air, dan obat-obatan, dan mereka tidak dianiaya," dilansir pihak Israel.

Klaim Israel itu bertentangan dengan kesaksian para aktivisGSF yang telah dibebaskan dan dideportasi. Puluhan aktivis, politikus, hingga jurnalis internasional yang tergabung dalam armada kapal GSFditahan dan dideportasi setelah seluruh kapal yang membawa bantuan kemanusiaan itu dicegat Israel ketika sedikit lagi menuju Gaza.

Dari berbagai sumber, dikatakan aktivis lingkungan Greta Thunberg dikabarkan disiksa tentara Israel saat dalam penahanan usai armada kapal Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Jalur Gaza Palestina dibajak pasukan Zionis.

Sejumlah aktivis yang dideportasi dari Israel, bahkan menuduh pasukan Israel memperlakukan Thunberg secara buruk.

Jurnalis Turki sekaligus peserta Armada Gaza Sumud, Ersin Celik, mengatakan kepada media lokal bahwa ia menyaksikan pasukan Israel "menyiksa Greta Thunberg". Celik bahkan menggambarkan bagaimana Thunberg "diseret di tanah" dan "dipaksa mencium bendera Israel" oleh tentara Zionis.

Aktivis Malaysia Hazwani Helmi dan peserta armada GSF asal Amerika Serikat, Windfield Beaver, memberikan kesaksian serupa di Bandara Istanbul. Mereka menuturkan bahwa Thunberg didorong dengan kasar dan dipamerkan sambil diselimuti bendera Israel.

"Itu bencana. Mereka memperlakukan kami seperti binatang," ujar Helmi, kemudian menambahkan bahwa para tahanan tidak diberi makanan, air bersih, maupun obat-obatan.

Beaver juga menuturkan Thunberg "diperlakukan sangat buruk" dan "dijadikan alat propaganda," mengenang bagaimana ia didorong masuk ke sebuah ruangan ketika Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, masuk.

Ada lagi jurnalis Italia Lorenzo Agostino, yang juga berada di armada tersebut, turut menegaskan perlakuan buruk yang dialami Thunberg.

"Greta Thunberg, seorang perempuan pemberani, baru berusia 22 tahun. Ia dihina, dililit dengan bendera Israel, dan dipertontonkan layaknya sebuah trofi," ujarnya kepada Anadolu.

Kesaksian lain menggambarkan perlakuan yang lebih parah dari tentara Israel. Presenter televisi Turki, Ikbal Gurpinar, mengatakan para pasukan Israel "memperlakukan kami seperti anjing."

"Mereka membiarkan kami kelaparan selama tiga hari. Mereka tidak memberi kami air; kami terpaksa minum dari toilet ... Hari itu sangat panas, dan kami semua hampir terbakar," ucap Gurpinar seperti dikutip Al Jazeera.

Dia menambahkan bahwa pengalaman itu memberinya "pemahaman lebih baik tentang kondisi Gaza."

Sementara itu, aktivis Turki Aycin Kantoglu menceritakan tentang tembok penjara yang berlumuran darah, serta coretan pesan dari para tahanan sebelumnya. "Kami melihat para ibu menuliskan nama anak-anak mereka di dinding. Kami benar-benar merasakan sedikit dari apa yang dialami warga Palestina," katanya.

Genosida Israel telah menewaskan sedikitnya 67.139 warga Palestina, menurut angka kementerian Kesehatan Gaza. Mayoritas korban merupakan warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak. (vit)

Berita Terbaru
Rabu, 28 Okt 2026 11:03 WIB

Penghargaan Samkaryanugraha Diberikan Kepada 4 Satuan TNI AL

Presiden Prabowo Subianto memberikan penghargaan Samkaryanugraha kepada empat satuan TNI AL.
Rabu, 28 Okt 2026 09:04 WIB

Unjuk Rasa Mahasiswa BEM UI, Hindari Kawasan Monas dan Bundaran HI

Demo Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama koalisi masyarakat sipil berjalan tertib.
Selasa, 27 Okt 2026 22:06 WIB

Putra Daerah Ini Mampu Sabet Gelar Juara Kejurnas Tinju Amatir Pertina 2026

Pelajar SMAN 10 Galang, Batam Rempang meraih medali perunggu di Kejurnas Tinju Amatir Pertina 2026.
Senin, 26 Okt 2026 19:47 WIB

Bangun 100 Sekolah Rakyat di 32 Provinsi, Serap 97 Ribu Tenaga Kerja

Pemerintah telah membangun Sekolah Rakyat Tahap II di 100 lokasi dengan daya tampung 122 ribu siswa.
Senin, 26 Okt 2026 13:01 WIB

Perkuat Tata Kelola Arus Saham, BEI Tambah Anggota HSC

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan keanggotaan Komite High Shareholding Concentration (HSC) yang baru.
Minggu, 25 Okt 2026 13:29 WIB

Dari Gelaran WCCE 2026 hingga Eksistensi Pasar Wiwitan di SCBD

Ekonomi kreatif harus menjadi pemersatu tanpa perbedaan. Disampaikan di forum WCCE 2026.