x  skyscraper
x  skyscraper

Agama Menyerukan Agar Kita Menumbuhkan Cinta Agape

WARTALENTERA - Cinta agape (dari bahasa Yunani) adalah bentuk kasih tertinggi yang tanpa syarat, tanpa pamrih, dan rela berkorban. Bukan didasarkan pada perasaan atau ketertarikan, melainkan sebuah keputusan sadar untuk mengasihi dan berbuat baik kepada orang lain, bahkan musuh sekalipun, demi kebaikan mereka sendiri.

Cinta agape sering dikaitkan dengan cinta ilahi, seperti kasih Tuhan kepada manusia, dan melibatkan empati, kebaikan, serta pengorbanan diri.

Kembali Desember hadir, menyalakan ulang bel pengingat di relung batin: hanya mahadaya cinta yang membuat kemanusiaan tumbuh. Mengetuk “pintu” Tuhan dengan getar kasih adalah akar dari seluruh kehidupan; mengetuk “pintu” sesama dengan welas asih adalah buah yang meneguhkan keberadaan kita sebagai manusia.

[caption id="attachment_16303" align="aligncenter" width="225"] Yudi Latif[/caption]

Agama menyeru kita menumbuhkan cinta agape—seperti sinar mentari yang memeluk siapa pun tanpa memilih. Namun di tanah kenyataan, kasih manusia sering berdiam di ruang yang sempit.

Altruisme mudah menyala bagi mereka yang satu warna kulit, satu nilai, satu identitas; tetapi terhadap “yang lain”, prasangka xenophobia kerap tumbuh seperti bayang yang tak diundang.

Agar rahmat dapat menembus batas-batas identitas, cinta agape perlu ditopang oleh kelembagaan kasih—jaringan konektivitas yang merekatkan ragam manusia dalam kepentingan bersama menjaga harmoni dan keadilan sosial-ekonomi.

Wallace pernah menyaksikan keajaiban itu di Dobo, Kepulauan Aru, tahun 1857. Di simpang angin dan lautan, perjumpaan ras dan etnis berlangsung tenteram, dijaga rasa kebersamaan dalam perdagangan yang jujur.

“Berbagai macam manusia hidup di sini,” tulisnya, “tanpa bayang-bayang hukum pemerintah—tanpa polisi, pengadilan, atau pengacara—namun mereka tidak saling menebas tenggorokan, tidak saling merampas, tidak tenggelam dalam anarki. Luar biasa! Membuat kita heran, betapa beratnya beban pemerintahan Eropa, seakan kita terlalu diatur. Kita merasa kecil di hadapan Dobo yang peraturannya sedikit, sementara Inggris memiliki hukum yang terlalu banyak.”

Namun konektivitas saja tak cukup; jaringan itu harus ditopang inklusivitas—kesetaraan akses pada pendidikan, kesehatan, usaha, layanan publik, partisipasi politik, dan keadilan hukum. Ketika sumber daya dimonopoli, cinta berubah menjadi pagar pertahanan diri, melahirkan kecemburuan dan keretakan sosial.

Konektivitas dan inklusivitas itu membutuhkan satu simpul terakhir: ikatan moral publik. Sebab moralitaslah yang menyatukan manusia—integritas etis yang menegakkan saling percaya, tempat di mana cinta akhirnya menemukan semen perekat peradabannya.

Ditulis oleh:Yudi LatifCendekiawan (Aliansi Kebangsaan)

Berita Terbaru
Senin, 08 Jun 2026 22:07 WIB

Shin Tae-yong Resmi Dipinang Persija Jakarta

WARTALENTERA - Shin Tae-yong (STY) akhirnya berlabuh di Persija Jakarta. Pelatih asal Korea Selatan itu bakal menjadi pelatih kepala baru mereka mulai musim
Senin, 08 Jun 2026 11:57 WIB

Rangkaian Gempa Bumi di Sulawesi Bukan Karena Megathrust

WARTALENTERA - Aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina diprediksi yang menyebabkan rangkaian gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 di Laut Sulawesi yang
Senin, 08 Jun 2026 08:23 WIB

Profesor Johan Silas, Tokoh Arsitek Ini Berpulang

WARTALENTERA - Profesor Johan Silas, tokoh arsitek dan pendidikan Indonesia tutup usia. Prof Silas dikabarkan meninggal hari ini, Senin (8/6/2026) melalui
Minggu, 07 Jun 2026 18:38 WIB

Huntara Ini Menampung Korban Bencana Tanah Bergerak

WARTALENTERA - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memantau perbaikan Hunian Sementara (Huntara) bagi korban bencana tanah bergerak di Desa Padasari,
Sabtu, 06 Jun 2026 15:28 WIB

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Kurangi Efek Rumah Kaca

WARTALENTERA - Menandai momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema nasional "Saatnya Beraksi untuk Iklim", PT Jasa Marga (Persero) Tbk
Sabtu, 06 Jun 2026 10:15 WIB

38 Tahun Penantian Itu Berbuah Manis!

WARTALENTERA - Timnas Indonesia bikin gegap gempita seluruh Gelora Bung Karno (GBK) tadi malam. Setelah penantian selama 38 tahun, akhirnya tim Garuda mampu