WARTALENTERA - Menjaga keberlanjutan Sungai Citarum perlu dimulai dari kawasan hulunya. Semangat tersebut menjadi landasan pelaksanaan ESG Now Ground Talk dan Bebersih Leuweung 2026 yang digelar Republika di kawasan Situ Cisanti, Bandung, Jawa Barat, belum lama ini.
Kedua kegiatan merupakan bagian dari rangkaian ESG Now Movement 2026 yang mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat aksi nyata bagi lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Mengangkat tema “Citarum Harum: Kolaborasi Membangun Ekosistem Sungai Berkelanjutan”, ESG Now Ground Talk menjadi forum dialog yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, komunitas lingkungan, serta akademisi. Diskusi diarahkan untuk membangun perspektif bersama mengenai kondisi dan masa depan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, sekaligus memperkuat komitmen menjaga kawasan hulu sebagai fondasi keberlanjutan ekosistem sungai.
"Bagi saya jujur bangun jalan mudah, bangun sekolah mudah. Tapi yang paling berat bagi diri saya adalah menghijaukan gunung dan hutan. Saya memimpin Jawa Barat dalam 5 tahun ini, enggak akan ada arti kalau tidak bisa menghijaukan Provinsi Jawa Barat," kata Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Sabtu, (26/9/2026).
Selain menghadirkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, turut hadir Dansatgas Citarum Harum Kolonel Infanteri Yanto Kusno Hendarto sebagai salah satu pembicara, dengan Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin sebagai moderator.
Diberitakan, Situ Cisanti dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki makna strategis dalam ekosistem Citarum. Kawasan itu berada di wilayah hulu Citarum, di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, kawasan kaki Gunung Wayang. Karena itu, upaya menjaga Citarum tidak dapat dilepaskan dari perlindungan kawasan hulu, mata air, hutan, serta masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Upaya tersebut membutuhkan proses yang berkelanjutan. Artha Graha Peduli (AGP), salah satu pihak yang mendukung kegiatan ini, telah terlibat dalam program Citarum Harum sejak 3 Desember 2017, dengan memulai kegiatan dari kawasan hulu, khususnya sekitar Situ Cisanti dan kaki Gunung Wayang.
Sejak awal, pendekatan yang dilakukan AGP tidak hanya berfokus pada penanaman atau kebersihan sungai, tetapi juga pada pemulihan lingkungan dan keterlibatan masyarakat. Kegiatannya mencakup edukasi lingkungan, pembibitan dan penanaman pohon, pemeliharaan serta rehabilitasi lahan, hingga pemberdayaan masyarakat dan kelompok tani. Pengembangan tanaman keras, pola multikomoditas, serta budidaya kopi juga dilakukan sebagai bagian dari upaya menghubungkan aspek konservasi dengan manfaat ekonomi masyarakat.
Pendekatan tersebut berangkat dari pemahaman bahwa menjaga Citarum bukan semata-mata menjaga aliran sungainya. DAS Citarum membentang dari kawasan Gunung Wayang hingga Muara Gembong dan memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat Jawa Barat, antara lain untuk kebutuhan air, pertanian, pembangkit listrik, serta berbagai aktivitas ekonomi.
Karena itu, menjaga kawasan hulu menjadi bagian penting dari keberlanjutan Citarum. Menjaga sumber air berarti menjaga aliran sungai, sementara menjaga lingkungan di sekitarnya berarti menjaga kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.
Ground Talk juga menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman bahwa pemulihan dan pelestarian Citarum membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG) dapat menjadi kerangka kolaborasi yang mempertemukan kepentingan lingkungan dengan peran pemerintah, dunia usaha, komunitas, akademisi, dan masyarakat.
Setelah forum dialog, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Bebersih Leuweung 2026 yang mengangkat tema “Dari Hulu Menjaga Citarum: Merawat Leuweung, Menjaga Kehidupan”. Kegiatan ini merupakan inisiatif konservasi dan aksi kebersihan lingkungan yang digagas Republika bersama komunitas lokal, pencinta alam, serta berbagai institusi.
Bebersih Leuweung, yang dalam bahasa Sunda berarti “membersihkan hutan”, bertujuan meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan hutan dan kelestarian lingkungan. Para relawan mengumpulkan sampah di sekitar kawasan Situ Cisanti untuk kemudian dipilah berdasarkan jenisnya dan dibawa ke fasilitas pengolahan. Sampah tidak langsung dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA), sehingga kegiatan ini sekaligus mengedukasi pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber.
Kegiatan Bebersih Leuweung telah digelar Republika sejak 2024 melalui kolaborasi dengan berbagai unsur pentahelix. Setelah pertama kali dilaksanakan di Gunung Palasari, Kabupaten Bandung, kegiatan berlanjut ke Gunung Putri Jayagiri, Lembang, pada 2024, dan Gunung Manglayang, Bandung, pada 2025.
Selain menjaga kebersihan kawasan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa keberlanjutan lingkungan membutuhkan perubahan perilaku. Sampah yang ditinggalkan di kawasan hutan tidak hanya mengganggu ekosistem, tetapi juga berpotensi terbawa ke aliran air dan menambah persoalan pencemaran di wilayah hilir.
ESG Now Ground Talk dan Bebersih Leuweung 2026 terselenggara berkat kolaborasi Republika dengan Satgas Citarum Harum Kodam III Siliwangi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Acara ini juga disponsori oleh Artha Graha Peduli, Triputra Agro Persada, Danone Indonesia, Bank BJB, Rumah Zakat, PLN UID Jabar, Eiger, Bank BJB Syariah, dan Rumah Wakaf. Kegiatan turut didukung Perhutani, Lica Indonesia, Perum Jasa Tirta II, dan Waste4Change. (vit)