warta lentera great work
spot_img

Pola Asuh Narsistik Bikin Anak Kena Mental, Berikut Empat Tips Anak Menghindar Tanpa Berkonflik

Luka batin bisa memengaruhi cara anak memandang diri sendiri dan menjalin hubungan dengan orang lain.

WARTALENTERA-Pola asuh orang tua narsistik bisa bikin anak kena mental. Tak sedikit anak tumbuh besar bersama sosok orang tua yang selalu ingin dikagumi, sulit menerima kritik, dan kerap mengabaikan perasaan anaknya.

Melansir PsychCentral, Selasa (13/5/2025), pola asuh seperti ini disebut pola asuh narsistik dan dapat menimbulkan luka batin yang terbentuk sering kali memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri dan menjalin hubungan dengan orang lain. Meski proses penyembuhan tidak selalu mudah, tapi ada beberapa tips agar pola asuh tidak menjadi luka batin bagi anak:

  1. Memaafkan Tanpa Membenarkan Perilaku Orang Tua

Penelitian tahun 2023 menemukan bahwa memaafkan dapat mengurangi kemarahan, kecemasan, dan depresi. Selain itu, memaafkan bisa meningkatkan harga diri, harapan, dan mengurangi stres, yang berdampak baik bagi kesehatan fisik seperti kualitas tidur, tekanan darah, dan kesehatan jantung.

“Memaafkan seseorang atas perilakunya bukan berarti membenarkan tindakan tersebut,” demikian dijelaskan dalam penelitian tersebut. Anda bisa memaafkan sambil tetap memahami bahwa perlakuan tersebut tidak benar,” tulis jurnal tersebut.

  1. Memutus Siklus yang Berulang

Sifat narsistik orang tua bisa berasal dari pengalaman buruk di masa kecil mereka, seperti kekerasan verbal, fisik, seksual, atau emosional. Mereka mungkin juga dibesarkan oleh orang tua yang memiliki sifat narsistik. Menyadari adanya trauma antar generasi dan mulai membongkar siklus ini menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan.

  1. Meresapi Rasa Kehilangan

Rasa kehilangan bisa muncul saat menyadari, masa kecil tidak seindah yang seharusnya. Seseorang mungkin merasa kehilangan pengasuhan yang hangat, masa kecil yang bebas, dan lingkungan yang stabil.

Kehilangan ini bisa meliputi tidak adanya penerimaan tanpa syarat, atau tidak punya ruang untuk mengembangkan jati diri. Mengakui dan memproses kehilangan ini adalah bagian dari perjalanan pemulihan.

  1. Menetapkan Batasan Sehat

Batasan internal bisa membantu untuk tidak lagi mengaitkan perilaku kasar orang tua dengan nilai diri. Sementara itu batasan eksternal melibatkan pembatasan sikap mengalah yang selama ini dilakukan, termasuk belajar mengatakan tidak dan menyampaikan pendapat.

Menetapkan batasan eksternal lebih memungkinkan dilakukan saat anak sudah dewasa dan tidak lagi tinggal bersama orang tua. (sic)

 

 

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular