WARTALENTERA – Iran resmi menutup Selat Hormuz, buntut dari gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei 28 Febuari 2026 kemarin.
Parlemen Iran mendorong pemerintah untuk menutup Selat Hormuz sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel beberapa hari yang lalu. Dunia kini memantau dengan saksama kemungkinan Iran merealisasikan penutupan selat tersebut.
Parlemen Iran dilaporkan telah mendukung langkah penutupan itu. Namun, keputusan akhir akan bergantung pada persetujuan dewan keamanan nasional Iran. Jika direalisasikan, langkah ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan Iran sejak dimulainya konflik dengan Israel pada 1979. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia, yang menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.
Republik Islam Iran saat ini berada pada posisi terdekatnya untuk mengambil tindakan penutupan Selat Hormuz. Sebelumnya, beberapa analis bersikap skeptis terhadap ancaman serupa karena secara historis Iran lebih memilih langkah-langkah terukur.
Namun, insiden yang menargetkan pimpinan tertinggi mereka baru-baru ini berpotensi mengubah pendekatan tersebut dan mendorong Teheran untuk mengambil tindakan yang lebih berdampak pada ekonomi global.
Selat Hormuz hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer. Meski ukurannya kecil, selat ini menjadi penghubung vital antara Teluk Persia yang kaya minyak dengan seluruh dunia. Hal ini menjadikannya salah satu jalur laut tersibuk dan paling strategis di Bumi.
Sekitar 22 persen atau hampir seperempat pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Sekitar 20 persen perdagangan global gas alam cair (LNG) juga melewati Selat Hormuz pada 2022
Selain minyak, Selat Hormuz juga digunakan untuk mengangkut gas alam cair (LNG), petrokimia, dan barang-barang penting lainnya. Keamanan dan stabilitas jalur ini sangat penting untuk memastikan perdagangan global tetap berjalan lancar. Jika Selat ini diblokir atau terganggu, konsekuensinya bisa sangat serius terhadap harga energi global, rantai pasok, dan ekonomi di seluruh dunia.
Selat Hormuz berbatasan dengan beberapa negara, masing-masing memiliki kepentingan dan pengaruhnya sendiri di kawasan.
Di sisi barat ada Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman, sementara Iran menguasai pantai utara, dan Arab Saudi serta Bahrain berada di sisi seberangnya. Kedekatannya dengan negara-negara kuat dan sumber daya vital menjadikan Selat Hormuz sebagai pusat ketegangan geopolitik.
Pentingnya Selat ini secara strategis telah menimbulkan berbagai tantangan politik dan militer selama bertahun-tahun. Iran, yang menguasai sebagian besar garis pantai utara, sering mengancam untuk memblokir Selat ini pada saat terjadi konflik.
Contohnya pada 2019, ketika ketegangan antara Iran dan AS memuncak, Iran menyita kapal tanker yang melintas di Selat ini. Tindakan ini, bersama dengan konfrontasi militer lainnya di kawasan, memicu kekhawatiran global mengenai keamanan jalur ini dan dampaknya pada pasar minyak dunia. (vit)


