WARTALENTERA – Zohran Mamdani, politikus Partai Demokrat berusia 34 tahun lahir di Uganda, Afrika siap dilantik menjadi Wali Kota New York City.
Dia menyatakan kemenangannya dalam pemilihan Wali Kota New York City dan mengatakan akan mulai menjabat pada 1 Januari 2026.
Menurut laporan MSNBC, Mamdani unggul dengan perolehan suara 51,5 persen, disusul mantan Gubernur Demokrat New York Andrew Cuomo dengan 40 persen.
Sementara kandidat dari Partai Republik, Curtis Sliwa, tertinggal dengan 8 persen suara. “Pada 1 Januari, saya akan dilantik sebagai Wali Kota New York City,” kata Mamdani di hadapan para pendukungnya, Rabu dinihari waktu setempat (5/11/2025). Mamdani akan menjadi wali kota Muslim pertama dan juga wali kota termuda di New York dalam lebih dari satu abad.
“Kita melangkah dari yang lama menuju yang baru. Ini akan menjadi masa di mana warga New York mengharapkan dari para pemimpinnya sebuah visi berani tentang apa yang akan kita capai, bukan daftar alasan,” ujarnya.
Mamdani menggambarkan kemenangannya sebagai “mandat untuk perubahan, untuk jenis politik yang baru,” dengan tujuan membangun kota yang terjangkau bagi warganya dan “pemerintah yang benar-benar mewujudkan hal itu.”
“Selama yang bisa kita ingat, para pekerja di New York telah diberitahu oleh kalangan kaya dan berpengaruh bahwa kekuasaan bukan milik mereka. Jari yang memar karena mengangkat kotak di gudang, telapak tangan yang kapalan akibat mengendarai sepeda pengantar, dan buku jari yang terluka karena panasnya dapur – tangan-tangan ini tidak pernah diberi kesempatan memegang kekuasaan,” katanya.
Sekilas tengang profil Mamdani. Zohran Kwame Mamdani, demikian nama lengkap pria yang kini tengah mencuri perhatian publik Amerika. Dia merupakan anggota muda dari Majelis Negara Bagian New York yang berhaluan sosialis dan tergabung dalam Partai Demokrat.
Mamdani lahir di Kampala, Uganda pada 18 Oktober 1991, namun dibesarkan di New York. Pria keturunan India berusia 33 tahun itu berpotensi mencetak sejarah sebagai Wali Kota Muslim pertama di New York apabila terpilih dalam pemilu mendatang.
Dia adalah putra dari Mahmood Mamdani, seorang akademisi ternama, dan Mira Nair, sineas sekaligus aktris asal India yang terkenal di dunia perfilman internasional.
Pendidikan formal-nya dimulai di Bronx High School of Science, lalu berlanjut ke Bowdoin College, Maine, di mana dia meraih gelar sarjana dalam bidang Studi Afrika. Di sana pula ia turut membentuk kelompok Students for Justice in Palestine, menandai keterlibatan-nya dalam isu-isu sosial sejak dini.
Sebelum masuk ke dunia politik, Mamdani aktif sebagai konselor pencegahan penggusuran, mendampingi masyarakat berpenghasilan rendah agar tidak kehilangan tempat tinggal.
Kiprah-nya dalam isu sosial semakin mencuat pada 2021 saat dia menjalani aksi mogok makan selama 15 hari, sebagai bentuk dukungan terhadap penghapusan utang sopir taksi dan penolakan terhadap pembangkit listrik yang mencemari udara di Astoria, Queens.
Sebagai seorang Muslim Syiah dari aliran Dua Belas Imam, Mamdani tak segan membawa identitas keagamaannya dalam perjuangan sosial. Ia dikenal vokal menentang agresi militer Israel terhadap Palestina.
Pada Oktober 2024, Mamdani menyebut tindakan pemerintah Israel di Gaza sebagai bentuk genosida yang dilakukan oleh rezim Benjamin Netanyahu. Mamdani juga mendukung gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) terhadap produk-produk yang terkait dengan Israel, dan secara tegas menolak segala bentuk kekerasan.
Pada Desember tahun lalu, Mamdani bahkan menyampaikan bahwa jika dirinya menjabat sebagai Wali Kota New York dan Netanyahu berkunjung ke kota tersebut, dia tidak akan segan mengambil tindakan hukum.
Sayang, terlepas dari seberapa sukses kariernya sebagai wali kota, Mamdani tidak dapat mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat karena dia lahir di Uganda. (vit)


