WARTALENTERA – Masih minimnya jumlah dokter spesialis di Indonesia mendorong sejumlah perguruan tinggi menambah program studi baru. Menurut data yang diungkapkan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Moh Adib Khumaidi, kebutuhan dokter spesialis di Indonesia mencapai 30 ribu dokter spesialis untuk memenuhi 280 juta penduduk Indonesia.
Saat ini, kata dia, rasio dokter spesialis adalah 0,17 per seribu penduduk. Jika memakai target menjadikan rujukan mencapai 0,28 per seribu penduduk, maka Indonesia membutuhkan total 78.400 dokter spesialis untuk 280 juta penduduk.
Padahal, jumlah dokter saat ini dari dokter umum berjumlah 153.200 dokter umum, dan hanya ada 47.454 dokter spesialis dari 38 kolegium, sehingga totalnya diperkirakan 200.654 dokter umum dan spesialis. Lebih jauh ia membahas terkait sebaran dokter spesialis di tanah air.
“Kita saat ini kekurangan 30.946 dokter spesialis. Proporsi di wilayah-wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Sulawesi Selatan, hingga Sumatra Utara merupakan wilayah yang mempunyai jumlah proporsi besar dari dokter spesialis, sisanya masih sangat minim,” kata Adib dalam konferensi pers di hadapan wartawan secara daring, Kamis (22/2/2024) lalu.
Untuk mendorong lahirnya dokter spesialis baru, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) membuka tiga program studi (prodi) baru untuk jenjang spesialis (Sp1) dan subspesialis (Sp2) guna memenuhi kebutuhan ilmu kedokteran di masyarakat. Ketiga prodi baru tersebut adalah Program Studi Spesialis Pendidikan Kedokteran Emergensi, Program Studi Subspesialis Jantung dan Pembuluh Darah, serta Program Studi Subspesialis Urologi yang merupakan prodi Sp2 Urologi yang pertama di Indonesia.
“Alhamdulillah, dengan dibukanya tiga program studi baru ini, FKUI kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan kedokteran terkemuka di Indonesia yang selalu berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang bermutu,” kata Dekan FKUI Ari Fahrial Syam dalam keterangan resminya, dikutip Senin (21/10/2024).
Ari berharap, melalui program ini, semakin banyak dokter spesialis dan subspesialis yang mampu memberikan pelayanan secara mendalam dan berkualitas. Sehingga pelayanan kesehatan di Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dengan demikian, FKUI kembali membuktikan komitmennya dalam menyediakan pendidikan kedokteran yang unggul dan berstandar internasional. Pembukaan tiga prodi baru ini menjadi sebuah terobosan dalam pendidikan kedokteran yang dirancang guna memenuhi kebutuhan pelayanan spesialis dan subspesialistik bagi masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Dibukanya prodi ini juga akan memperluas akses masyarakat, khususnya terhadap layanan kedokteran emergensi, jantung dan pembuluh darah, serta urologi yang berkualitas. Pembukaan prodi spesialis dan subspesialis di FKUI dilatarbelakangi oleh kebutuhan Dokter Spesialis Kedokteran Emergensi, dan konsultan dalam bidang jantung dan pembuluh darah serta urologi di berbagai pusat layanan kesehatan di Indonesia.
Saat ini, masih terdapat keterbatasan dalam penanganan kasus-kasus yang kompleks yang menuntut keahlian dari dokter spesialis dan subspesialis. Selain itu, diharapkan dengan hadirnya prodi baru ini dapat menambah jumlah dokter spesialis dan subspesialis yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Proses pendirian ketiga prodi di FKUI telah melalui berbagai tahapan penting, termasuk akreditasi oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes). Sehingga dapat dipastikan bahwa program ini memenuhi standar pendidikan kedokteran spesialis dan subspesialis yang telah ditentukan.
Prodi Spesialis Pendidikan Kedokteran Emergensi dirancang dengan durasi selama delapan semester. Lulusan dari prodi ini diharapkan dapat menjadi dokter spesialis emergensi yang mampu mengelola layanan emergensi, khususnya resusitasi, baik sebagai klinisi maupun manajerial.
Mereka juga dapat bekerja di layanan pra-rumah sakit seperti Public Safety Center (PSC), layanan ambulans gawat darurat, layanan rujukan gawat darurat, serta layanan kebencanaan di berbagai instansi. Termasuk Dinas Kesehatan, Pusat Krisis Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Badan SAR Nasional (Basarnas).
Sementara Prodi Subspesialis Jantung dan Pembuluh Darah serta Subspesialis Urologi, masa studi akan berlangsung selama empat semester dan dibagi menjadi tiga tahapan pendidikan yang komprehensif. (sic)


