warta lentera great work
spot_img

Ada Dendam Membara di Balik Kisah Tragis Alvaro Kiano Nugroho

Tewas di tangan ayah tiri, ditemukan sudah menjadi kerangka.

WARTALENTERA – Alvaro Kiano Nugroho adalah seorang bocah laki-laki berusia enam tahun yang periang. Namun, keceriaannya lenyap seiring dengan menghilangnya Alvaro Kiano dari kediaman orang tuanya di Kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Ya, Alvaro Kiano tiba-tiba lenyap dari rutinitas harian. Ia menghilang pada Kamis (6/3/2025) saat hendak menunaikan salat Maghrib di masjid dekat rumahnya, namun tak pernah kembali.

Selama delapan bulan berikutnya, keluarga dan polisi bergulat dalam pencarian tanpa ujung. Saat itu, sang ayah tiri yang bernama Alex Iskandar alias AI (49), turut berada di garis depan, berpura-pura mencari, bahkan ikut melapor ke kantor polisi. Sandiwara yang begitu rapi, ternyata menyembunyikan kebenaran paling gelap.

Misteri ini mulai terkuak pada Minggu (23/11/2025), ketika kerangka yang diduga kuat adalah Alvaro Kiano ditemukan di kawasan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Setelah penangkapan AI pada Jumat (21/11/2025), terungkaplah motif yang begitu keji: dendam.

Penyelidikan polisi mengungkap bahwa AI merasa sakit hati dan dendam terhadap mantan istrinya, Arumi (Ibu kandung Alvaro), yang ia curigai berselingkuh.

“Penyidik menemukan adanya indikasi kuat dorongan pelaku gimana caranya balas dendam [karena kesal diselingkuhi]. Ini muncul berulang kali, sakit hati ke pihak tertentu,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto dalam konferensi pers di Polres Jakarta Selatan, Senin (24/11/2025).

AI, yang memiliki sifat temperamental, menganggap Alvaro sebagai sarana melampiaskan rasa sakit hatinya. Hal ini diakui oleh Arumi dalam sebuah wawancara dengan media nasional.

Menurut Arumi, jauh sebelum tragedi, benih-benih ancaman sudah ditanamkan. Arumi juga mengungkit sifat temperamental AI yang membuatnya memutuskan untuk berpisah pada April 2024, meskipun mereka baru menikah Desember 2023.

“Pisah udah lama, terus karena dia orangnya temperamen dan dia tidak bisa menerima anak-anak, jadi saya memutuskan untuk pisah,” kata Arumi.

Arumi juga mengenang ancaman yang pernah dilontarkan AI untuk menculik Alvaro pada 2024.

“Dia pernah melontarkan itu, kirain cuma bercanda, enggak akan terjadi, soalnya ‘nih anak lu lagi sama gue’, ternyata dia lagi jajan, main,” tambahnya.

Penculikan itu dilakukan di dekat masjid Pesanggrahan. Menurut kronologi polisi, saat diculik, Alvaro tak henti-hentinya menangis. Pelaku yang kesal dengan tangisan itu kemudian membekap Alvaro hingga meninggal dunia.

“Pelaku membungkus jenazah dengan tas plastik berwarna hitam dan membuangnya di wilayah Tenjo, di Jembatan Cilalay pada 9 Maret 2025 pada malam hari atau 3 hari setelah diketahui AKN (korban) hilang,” lanjut Kombes Budi Hermanto.

Kesaksian dari pihak keluarga memberikan gambaran betapa lihainya sandiwara AI. Tugimin (71), kakek Alvaro Kiano, adalah salah satu yang paling terpukul.

“Sekarang lagi dalam perjalanan. Namun kita belum bisa komunikasi karena mungkin dalam perjalanan,” ujar Tugimin saat menunggu kedatangan Arumi dari Malaysia untuk tes DNA, di rumahnya di bilanagan Jakarta Selatan, Senin (24/11/2025).

Tugimin sebelumnya menduga Alvaro diculik oleh seorang pria yang mengaku sebagai ayahnya, tanpa menyadari pria itu adalah AI yang setiap hari bersama mereka. Keluarga juga terpukul setelah mengetahui bahwa AI, yang selama ini berpura-pura mencari, adalah dalang di balik hilangnya Alvaro.

Babak akhir di ruang konseling

Kasus ini memasuki babak akhir yang mengejutkan. Tak lama setelah ditetapkan sebagai tersangka dan menjalani pemeriksaan maraton, AI ditemukan tewas di ruang konseling Polres Metro Jakarta Selatan pada Minggu (23/11/2025) pagi.

Penyelidikan mendalam mengungkapkan, AI bunuh diri dengan cara gantung diri menggunakan celana panjang di ruang konseling tersebut. Kematian tersangka pembunuhan ini menutup pintu pengadilan bagi AI, namun tidak bagi misteri dan trauma yang ditinggalkannya. Saat ini, kepolisian tengah memeriksa dua personel jaga yang bertugas saat AI meninggal.

Setelah delapan bulan penuh harapan dan doa, keluarga harus menerima kenyataan pahit. Alvaro, sang bocah periang yang hilang saat hendak salat, kini hanya tinggal kerangka, menjadi simbol dari kekejian yang berawal dari dendam dan berakhir dengan kematian ganda.

Pihak keluarga telah menyiapkan makam untuk mendiang Alvaro Kiano Nugroho di Tanah Wakaf Masjid Jami Al Muflihun, Bintaro, Jakarta Selatan. Persiapan lahan makam ini dilaporkan sudah dilakukan sejak ditemukannya jasad Alvaro Kiano dan dibawa ke RS Polri pada Minggu (23/11/2025) untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Sementara, jenazah tersangka pembunuhan, Alex Iskandar, dimakamkan oleh pihak keluarga di TPU Kedaung, Tangerang. Kepolisian juga melakukan penyembuhan trauma (trauma healing) bagi keluarga mendiang Alvaro Kiano. (inx)

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular