WARTALENTERA-Ada empat gejala khas penyakit lupus, jangan anggap remeh anomali pada tubuh. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi dr. Anna Ariane, SpPD, K-R mengingatkan, apabila pasien mengalami minimal empat gejala penyakit autoimun lupus maka dianjurkan untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter.
“Apabila ketemu empat dari gejala-gejala lupus segera periksa sehingga harapannya bisa ditemukan lebih awal. Sebelum muncul (gejalanya) sudah berat misalnya ke rumah sakit ternyata sudah gagal ginjal,” kata Anna dalam sesi diskusi kesehatan di Jakarta, dikutip Selasa (3/6/2025).
Lupus sendiri merupakan penyakit autoimun kronis berupa peradangan yang terjadi di berbagai organ tubuh seperti ginjal, paru-paru, jantung, kulit, tulang, dan sendi. Menurut dokter yang berpraktik di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu, penyakit ini dijuluki sebagai “penyakit seribu wajah” karena banyak gejalanya yang menyerupai penyakit lain.
Dia pun menyebutkan sejumlah gejala yang ditemui pada penderita lupus. Antara lain, demam lebih dari 83 derajat celsius dengan sebab tidak jelas, rasa lelah berlebihan, sensitif terhadap sinar matahari, ruam kemerahan yang melintang dari hidung ke pipi, ruam kemerahan di kulit, nyeri dada terutama saat menarik nafas panjang atau berbaring.
Selain itu, pasien lupus juga bisa merasakan gejala nyeri dan bengkak di persendian, ujung jari tangan dan kaki pucat hingga kebiruan saat udara dingin, rambut rontok, sariawan di atap rongga mulut, kejang, atau kelainan lain yang ditemukan oleh pemeriksaan laboratorium. “Menurut studi dari RSCM, keluhan paling banyak adalah arthritis yaitu nyeri sendi atau radang sendi sebesar 84 persen,” imbuhnya.
Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Reumatologi Indonesia itu menekankan pentingnya pemeriksaan dini agar pasien segera mendapatkan penanganan lebih lanjut. Diagnosis lupus, kata dia, dilakukan berdasarkan keluhan yang dialami pasien, pemeriksaan dokter, maupun uji laboratorium.
“Diagnosis lupus harus dilakukan oleh dokter yang pernah menemui dan menangani kasus lupus,” imbaunya. Sementara itu, Direktur P2PTM Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, untuk mendorong deteksi dini, Kemenkes akan meluncurkan program SALURI (Periksa Lupus Sendiri) tahun ini. Program ini menyasar calon pengantin wanita sebagai langkah awal pencegahan di kelompok usia berisiko.
SALURI mengajak masyarakat untuk mengenali tanda-tanda lupus secara mandiri dan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) jika menemukan gejala yang mencurigakan. “Melalui program SALURI, kami berharap masyarakat lebih memahami pentingnya deteksi dini lupus sehingga kasus dapat ditangani lebih cepat dan tepat,” ulasnya, belum lama ini.
Dia menekankan, bahwa deteksi dini lupus membutuhkan kolaborasi multi-sektor antara pemerintah pusat dan daerah, organisasi profesi, BPJS Kesehatan, dan media. Kemenkes juga telah menyusun pedoman dan modul pelatihan tatalaksana lupus bagi tenaga kesehatan.
Program Rujuk Balik melalui BPJS Kesehatan juga diperkuat agar pasien lupus mendapatkan penanganan berkelanjutan. Berikut manfaat deteksi dini lupus:
1. Meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup pasien.
2. Mencegah kerusakan organ seperti ginjal, jantung, dan paru-paru.
3. Mengurangi biaya pengobatan yang tinggi akibat komplikasi berat.
4. Meningkatkan produktivitas pasien agar tetap dapat bekerja dan beraktivitas normal.
5. Mengurangi flare-up lupus atau serangan penyakit berulang.
(sic)


