warta lentera great work
spot_img

Menelisik Teori Sains tentang Hajar Aswad

Teori Thomsen yang menyebutnya berasal dari meteor dianggap paling mendekati, meski masih terdapat beberapa kelemahan.

WARTALENTERA – Mencium Hajar Aswad menjadi salah satu keutamaan yang disunahkan ketika melaksanakan ibadah haji atau umrah. Hajar aswad merupakan batu berwarna kehitaman letaknya berada di sudut Ka’bah berbingkai perak sehingga jemaah haji atau umrah berebut mencium dan mengusapnya setelah melaksanakan thawaf.

Hajar Aswad bukanlah batu biasa. Batu ini adalah batu dari surga yang diberikan Allah SWT kepada Ibrahim saat membangun Ka’bah.

Dalam bahasa Arab, Hajar Aswad terdiri dari dua kata yaitu ‘Hajar’ yang bermakna batu dan ‘Aswad’ yang bermakna hitam. Pada awalnya, batu itu berwarna putih, yang kemudian berubah menjadi hitam karena menyerap dosa-dosa manusia.

Hal ini dipertegas dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW telah bersabda, ”Hajar Aswad itu asalnya dari surga, warnanya lebih putih dari susu, dosa-dosa manusia lah yang membuat warnanya jadi hitam.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Al Baihaqi)

Nah, kisah tersebut mendorong para ilmuwan mencari jawaban mengenai Hajar Aswad berdasarkan teori sains. Mereka telah mencari teorinya sejak lama.

Salah satunya menyamakannya dengan batu akik. Adapula yang menyebutnya masuk dalam kategori batu meteor.

Para ahli mengatakan pengkategorian Hajar Aswad sebagai batu meteor paling dekat jika mengacu pada kisahnya yang berasal dari surga. Mengingat pula fakta sejarah terdapat jejak-jejak meteorit dekat Ka’bah.

Sementara itu, dalam “New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba (1980)” oleh E. Thompson, menceritakan mengenai peneliti Philby di Al Hadidah pada 1932 menemukan kawah meteor yang disebut Wabar. Ukurannya mencapai 100 meter dengan sejumlah pecahan berada di sekitar kawah dan gurun.

Pecahan meteor dikabarkan dari leburan pasir dan silika yang bercampur nikel. Thompson menjelaskan campurannya membuat lapisan putih dari dalam dengan warna hitam terbungkus dari luar yang terbuat dari Nikel dan Ferum (besi) antariksa.

Ciri-ciri yang disebutkannya mirip dengan gambaran Hajar Aswad. “Misalkan, warna putih (yang dipancarkan Hajar Aswad) mungkin berasal dari paparan bagian dalam inti hasil campuran zat kimia itu,” katanya.

Ia juga menjelaskan soal lapisan putih yang disebutnya sangat rapuh dan tidak tahan lama. Pada akhirnya lapisan batuan berwarna hitam menyelimutinya.

Artinya batuan berwarna putih tidak abadi dan menghilang, kemudian hanya tersisa bagian hitam saja. Hal ini bisa menjelaskan perubahan warna secara sains, dengan bintik-bintik putih di dalamnya adalah sisa kaca dan batu pasir.

“Batu meteor itu kemungkinan batu yang sama dengan Hajar Aswad,” tulis Thomsen.

Namun teori ini juga punya kelemahan. Karena penelitian itu mengatakan batu meteor tidak mengapung dan tidak pecah menjadi bagian kecil.

Meski begitu teori tersebut paling mendekati hingga sekarang. Thomsen juga mengatakan perlu penelitian material dari meteor untuk mendapatkan jawaban yang lebih tepat.

Sementara itu, penelitian lain berupaya mencari tahu soal usia batu. Hasilnya sesuai dengan pengamatan orang Arab kuno, yakni kemungkinan dibawa ke Makkah dari Oman.

Gabungan delapan batu kecil

Sebuah teknik fotografi dengan fokus panorama bertumpuk yang dilakukan Presidensi Umum Urusan Dua Masjid Suci Arab Saudi pada 2021 lalu, berhasil merekam gambar Hajar Aswad dengan tingkat akurasi dan kualitas tinggi.

Butuh tujuh jam menggabungkan foto-foto dengan kejernihan berbeda sebelum mereka mendapatkan foto dengan resolusi hingga 49.000 megapiksel tersebut. Ini adalah kali pertama dunia bisa melihat lebih dekat Hajar Aswad.

Gambar yang diambil disebutkan sangat jelas sehingga setiap orang bisa melihat setiap bagian batu yang tidak terlihat sebelumnya. Teknik fotografi tersebut menegaskan kalau sebetulnya Hajar Aswad terdiri dari delapan batu kecil yang digabung dengan frankincense Arab. (inx)

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular