WARTALENTERA - Kementerian PKP atau Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP) resmi menjadi kementerian dengan anggaran kelola terbesar pada 2025. Anggaran yang datang dan masuk di pertengahan tahun ini menjadi tantangan tersendiri bagi sang Menteri, Maruarar Sirait, dan timnya untuk tancap gas pada gigi 5 untuk percepatan penyerapan anggaran.
Salah satu yang membanggakan adalah turunnya dana dari Danantara senilai Rp130 triliun. Dana ini berasal dari dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang kemudian dialihkan untuk menjadi liquiditas pembiayaan perumahan.
Baca juga: 2026, Pemerintah Target 400 Ribu Rumah Warga Miskin Direnovasi
Liquiditas yang sebelumnya ada di perbankan BUMN diduga menganggur dan banyak kebocoran, akan diefektifkan untuk pembiayaan perumahan masyarakat berpendapatan rendah (MBR).
Dana KUR dari Danantara untuk pembiayaan perumahan ini menunjukkan tiga hal, yakni:
- Negara dan pemerintah Indonesia banyak uang, namun selama ini banyak uang tersebut menganggur.
- Meningkatkan kepercayaan Presiden Prabowo selaku pimpinan Danantara kepada Kementerian PKP.
- Kementerian PKP dianggap paling siap dalam mengelola kelebihan liquditas yang tersedia di dalam negeri.
Kebijakan ini meningkatkan anggaran pembiayaan perumahan senilai Rp130 triliun yang terbagi menjadi dua bagian, yakni untuk perumahan komersial Rp80 triliun dan pembiayaan perumahan subsidi Rp50 triliun.
Sementara modal dasar PKP untuk pembangunan perumahan adalah dana Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) dan Dana Fasilitas Liquiditas Pembangunan Perumahan (FLPP). Nilai dana Tapera FLPP tersebut mencapai Rp120 triliun. Seluruh dana tersebut telah dan akan digunakan untuk pembangunan rumah subsidi.
Baca juga: Perluasan Kampung Haji di Mekkah, Indonesia Beli Tanah Lagi
Secara keseluruhan dana kelola kementerian PKP mencapai Rp380 triliun, yang menjadikan kementerian ini sebagai satu satunya kementerian dengan dana kelola tiga kali lebih besar dari Kementerian Pertahanan. Belum ditambah dukungan dana lainya dari APBN tani Bantuan Stimulus Perumahan Swadaya (BSPS) dan dukungan dana dari Corporat Social Responsibility (CSR) dari perusahaan yang juga cukup besar.
Dana besar yang datang di pertengahan tahun menjadi signal bahwa kapasitas keuangan Indonesia sangat besar dan siap menjadi negara yang mandiri dari sisi keuangan. Indonesia tidak lagi mengandalkan pinjaman luar negeri sebagai sumber liquiditas untuk pembiayaan pembangunan.
Dengan adanya pemotongan anggaran APBN telah menjadi signal kuat bahwa sistem anggaran defisit telah berakhir dan menjadi peta jalan mengurangi ketergantungan pada utang.
Baca juga: Bertemu PM Australia, Presiden Tawarkan Danantara
Bagi kementerian PKP kerja keras tanpa kenal lelah dalam menyiapkan berbagai regulasi, organisasi dan kelembagaan yang kuat, serta sosialisasi yang masif dalam rangka mendapatkan dukungan masyarakat bagi pembangunan tiga juta rumah. Bagaimana pun juga semua tergantung rakyat, daya beli rakyat dan kesadaran rakyat untuk berubah menjadi lebih baik.
Karpet merah bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah (MBR) telah digelar oleh presiden Prabowo. Ok Gas Tabrak masuk!
Ditulis oleh:Salamuddin DaengDirektur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)
Editor : Inge Mangkoe