DLH Jakarta Bangun 31 Stasiun Pemantau Kualitas Udara, Warga Bisa Akses Bebas

Reporter : Sicillia Tan
Alat pemantau kualitas udara di Jakarta. (Antara)

WARTALENTERA - Pemantauan kualitas udara Jakarta sangat dibutuhkan masyarakat. Dengan mengetahui kualitas udara real time, warga bisa melakukan pencegahan agar kesehatan lebih terjaga.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyiapkan 31 Stasiun Pemantau Kualitas Udara di sejumlah titik strategis. "Informasi terkait kualitas udara bisa diakses oleh masyarakat melalui udara.jakarta.go.id. Platform tersebut menampilkan data dari 31 Stasiun Pemantau Kualitas Udara Jakarta, yaitu milik DLH Provinsi DKI Jakarta; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG); World Resources Institute (WRI) Indonesia; dan Vital Strategies," kata Asep, dalam keterangan resminya di Jakarta, dikutip Rabu (20/11/2024).

Baca juga: Sidak Malam, KLH Segel Dua Pabrik Peleburan Logam di Serang

Asep menyampaikan, kualitas udara di Jakarta hari ini berstatus baik hingga sedang.  "Kalau dilihat melalui IQAir, kondisinya saat ini juga berstatus ‘sedang’," imbuhnya.

Hal itu, disebabkan intensitas hujan mulai banyak, sehingga menyapu berbagai polutan di udara. Lebih lanjut, Asep memaparkan, DLH DKI Jakarta juga melakukan sejumlah langkah penanggulangan pencemaran udara.

Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Intensifkan Uji Emisi Kendaraan

Beberapa langkah yang dilakukan, di antaranya memperketat pengawasan sumber emisi bergerak dan tidak bergerak. Serta mendorong pemerintah daerah di sekitar Jakarta untuk mengawasi industri di wilayahnya yang berpotensi mencemari udara hingga terbawa ke Jakarta.

Sementara itu, Pakar Kualitas Udara dari Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor (FMIPA IPB), Ana Turyanti melansir poskota.co.id, mengungkapkan, kemarin, pada 19 November 2024, pukul 07.00-11.00 WIB, kondisi kualitas udara di sekitar Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, menunjukkan konsentrasi PM2.5 rata-rata 55 µg/m3, maksimum 57 µg/m3.

"Jika diasumsikan masyarakat terpapar 5 jam, maka hasil analisis karakterisasi risiko kesehatan non-karsinogenik dari menghirup udara tersebut sebesar 0.4. Nilai ini masih <1, sehingga aktivitas pada hari ini di sekitar GBK dalam kondisi aman. Perhitungan tersebut diasumsikan bahwa masyarakat rata-rata berusia dewasa dengan berat badan rata-rata sekitar 59 kilogram," terangnya. (sic)

Editor : Sicillia Tan

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru