WARTALENTERA - Bagi pencinta kuliner di Jawa Timur, nama Rawon Nguling tentu sudah tidak asing lagi. Kuliner sup daging berkuah hitam pekat ini telah melegenda sejak 1942 dan berhasil mempertahankan cita rasa autentiknya lintas generasi hingga dinobatkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Dirintis pertama kali oleh pasangan Mbah Karyajo dan Mbah Marni di kawasan tapal batas Probolinggo-Pasuruan, kuliner itu awalnya dijajakan secara sederhana dengan nama "Warung Lumayan". Pengelola generasi ketiga Rawon Nguling Pusat, Rofiq Ali Pribadi, sempat mengungkapkan rahasia eksistensi bisnis keluarga tersebut.
Baca juga: Enaknya Makan Bersama Keluarga dalam Satu Cobek Sambal!
"Kunci keberlanjutan kami dari dulu hingga sekarang adalah konsistensi menjaga keaslian rasa dan merawat warisan resep leluhur secara turun-temurun," ujar Rofiq di Surabaya, Rabu (26/8/2026). Kini, lanjut Rofiq, kelezatan Rawon Nguling tidak hanya bisa dinikmati di pusatnya di Tongas, Probolinggo.
Baca juga: Yuk, Dicoba Sensasi Ayam Geprek Dua Puluh Ribuan!
Bagi warga Kota Pahlawan, depot cabang di Jalan Raya Kendangsari Industri, Surabaya menjadi pusat nostalgia tersendiri karena telah berdiri sejak era 1990-an. Cabang itu konsisten menyajikan rawon dengan kuah yang pas tidak terlalu kental namun kaya kaldu lengkap dengan deretan lauk pendamping ikonik seperti paru goreng garing, empal basah, hingga tempe goreng yang khas.
Kesetiaan rasa itu diakui oleh para pelanggan setianya yang kerap menjadikan tempat ini sebagai lokasi memori masa kecil. "Sejak tahun 90-an waktu saya masih SD, rasa kuah rawon dan empalnya di sini tidak pernah berubah sedikit pun. Makan di sini selalu bikin kangen masa lalu," jelas Budi (38), salah satu pengunjung setia asal Surabaya.
Baca juga: Sup Kaledo, Kuliner Otentik Asal Sulawesi Tengah Hadir di Hotel Borobudur
Meski sempat diterpa berbagai mitos persaingan bisnis pada masa keemasannya di tahun 1996, Rawon Nguling terbukti tetap kokoh berdiri. Rahasia keberlanjutannya murni terletak pada warisan resep leluhur dan komitmen menjaga kualitas, menjadikannya bukti nyata bahwa kuliner tradisional yang dikelola dengan hati akan selalu abadi di lidah pelanggan. (vit)
Editor : Vita Kartono