WARTALENTERA – PT Aneka Tambang Tbk atau Antam stop impor emas batangan. Bersinergi dengan PT Freeport Indonesia (PTFI), negara bisa menghemat devisa hingga Rp200 triliun!
Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso mengatakan, Antam tak akan lagi impor emas lantaran kini perusahaan sepakat untuk membeli bahan baku logam mulia itu dari Freeport. Hal itu seiring pembangunan fasilitas precious metal refinery (PMR) pada smelter milik PTFI di Gresik, Jawa Timur.
PTFI pun melakukan pengolahan hingga pemurnian emasnya secara terintegrasi. “Antam itu impor ingot yang angkanya fenomenal, ratusan triliun (rupiah). Dengan sinergi ini Indonesia akan hemat devisa karena nggak impor lagi bahan baku logam mulia Antam,” kata Hendi dalam acara penandatangan perjanjian jual beli emas antara PTFI dengan Antam di Jakarta, dikutip Jumat (8/11/2024).
Ia meyakini, lewat kerja sama antara anggota holding BUMN tambang itu, hilirisasi emas kian kokoh. Pasalnya, kini masyarakat Indonesia bisa menikmati hasil buminya sendiri.
Hendi menyebut kerja sama antara kedua perusahaan itu akan dijadikan sebagai role model sinergi antaranggota holding. “Sinergi ini akan kami dorong terus antara anak usaha di bawah holding tambang MIND ID dan akan kita jadikan model ke depan di mana satu siklus industri bisa dilakukan di dalam negeri dan bangsa sendiri,” yakinnya.
Antam sendiri nantinya akan menyerap sebesar 30 ton emas per tahun dari smelter PTFI. Menanggapi kerja sama tersebut, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan, kerja sama ini kian meneguhkan niat perusahaan untuk menggenjot hilirisasai guna meningkatkan nilai tambah.
“Kontraknya untuk tahapan ini 5 tahun nilainya USD12,5 miliar atau sekitar Rp200 triliun dan ini sangat membanggakan untuk kita. Sebab, emas produksi kita dikonsumsi Antam dan bisa memberikan nilai tambah untuk industrialisasi di Indonesia,” ulasnya.
Adapun, PMR PTFI menjadi salah satu produsen emas murni batangan di Indonesia dengan kapasitas pemurnian sekitar 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun. Selain itu, smelter tersebut juga mampu menghasilkan platinum group metals yaitu 30 kg platinum dan 375 kg palladium.
Tony menyebut, produksi emas dari PMR PTFI pertama direncanakan pada pekan kedua Desember 2024 mendatang. Sementara itu, estimasi saat ini hingga akhir tahun 2024 produksi emas sebesar 0,5 ton dan pada kuartal I/2025 sebesar 4,75 ton.
Sementara itu, Menteri BUMN Erick Thohir mengapresiasi sinergi dalam bentuk kerja sama tersebut. Apalagi, selama ini Antam membeli bahan baku emas dari luar negeri.
“Dengan Freeport memproduksi (emas) 50 ton, Antam ambil 30 ton (per tahun), akan ada penghematan (biaya impor) Rp200 triliun,” kata Erick di Jakarta, Kamis (7/11/2024).
Tony juga memerinci, bahwa fasilitas PMR diperkirakan mampu menghasilkan hingga 50-60 ton emas per tahun. Selain emas, fasilitas ini juga akan memproduksi logam berharga lainnya, termasuk lebih dari 200 ton perak per tahun, 30 kg platinum, dan 375 kg palladium per tahun, serta mineral tambahan seperti selenium dan bismut.
“Total yang bisa diproduksi kira kira sampai 50-60 ton tergantung pada kadar bijih yang ditambang. Di samping itu juga tentu perak yang lebih dari 200 ton per tahun dan platinum 30 kg dan ada palladium 375 kg per tahun dan ada juga mineral lainnya selenium dan bismut juga,” tuntasnya. (sic)


