WARTALENTERA – Lulusan sarjana tidak menjamin seseorang akan mudah mendapat pekerjaan. Kurangnya lapangan kerja saat ini, membuat sejumlah lulusan sarjana tidak terserap di dunia kerja.
Pengamat ekonomi sumber daya manusia dari Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat (Sumbar) Delfia Tanjung Sari menjelaskan, penyebab tingginya lulusan strata 1 (sarjana) yang berkontribusi cukup signifikan terhadap angka pengangguran di tanah air. “Setelah tamat biasanya mereka langsung menginginkan pekerjaan tertentu, dan cenderung milih-milih,” kata Delfia Tanjung Sari, melansir antaranews, Kamis (31/10/2024).
Selain sangat selektif dan mempunyai ekspektasi yang tinggi, lanjutnya, para pencari kerja pemula tersebut merasa belum mempunyai beban layaknya pencari kerja yang sudah menikah. “Mereka ini merasa belum punya tanggung jawab karena masih single. Jadi, kalau pun belum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan mereka tidak terlalu memikirkannya,” prediksinya.
Secara spesifik, dosen pada Fakultas Ekonomi Bisnis Unand itu melihat karakteristik pencari kerja usia muda masih didominasi laki-laki. Sementara, perempuan lebih cenderung menangkap peluang yang ada sebelum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.
“Jadi, kelompok pencari kerja usia muda ini lebih ke ego pribadi. Mereka merasa sarjana layak mendapatkan pekerjaan yang lebih,” ujarnya.
Merujuk data BPS Pusat, tingkat pengangguran terbuka di tanah air pada Februari 2024 mencapai 4,82 persen. Angka itu terus menunjukkan tren penurunan sejak 2021.
Pada Februari 2021, BPS RI mencatat tingkat pengangguran terbuka sebesar 6,26 persen, setahun kemudian angka pengangguran terbuka turun menjadi 5,83 persen. Selanjutnya pada Februari 2023 tingkat pengangguran terbuka kembali turun menjadi 5,45 persen.
Meski dilihat dari survei ada penurunan jumlah pengangguran di RI, tapi ada baiknya kita melihat sejumlah jurusan yang rentan menganggur usai lulus dari kampus. Sebelum memilih jurusan kuliah, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, seperti minat, bakat, dan rencana karier di masa depan.
Melansir berbagai sumber, Kamis (31/10/2024), berikut daftar sepuluh jurusan sarjana dengan tingkat pengangguran tertinggi yang perlu diperhatikan, bahkan dihindari, jika tidak sesuai dengan minat dan bakat kalian:
1. Pengajaran Pendidikan Jasmani
Jurusan ini memiliki tingkat pengangguran tertinggi, mencapai 56,4 persen. Jurusan ini, fokus pada pengajaran dan ilmu olahraga.
Menghadapi keterbatasan lapangan kerja serta kebutuhan tenaga pengajar yang bisa berubah-ubah, membuat banyak lulusannya kesulitan mendapatkan pekerjaan.
2. Layanan Manusia atau HR
Jurusan ini memiliki angka pengangguran yang tinggi, sebesar 55,6 persen. Meskipun HR memainkan peran krusial dalam perekrutan dan manajemen karyawan, banyak lulusan bersaing ketat dalam industri ini.
Di samping itu, kebutuhan akan pengalaman khusus sering kali menjadi penghalang bagi lulusan baru untuk menempati posisi tersebut.
3. Ilustrator
Dengan tingkat pengangguran mencapai 54,7 persen, jurusan ilustrator menjadi pilihan yang cukup berisiko. Bidang ini sangat kompetitif, dan tren digitalisasi serta outsourcing desain grafis membuat banyak lulusan sulit mendapatkan pekerjaan tetap.
4. Peradilan Pidana
Jurusan ini juga memiliki angka pengangguran yang cukup tinggi, yakni 53 persen. Bidang ini bertujuan mempersiapkan lulusan untuk bekerja dalam sistem peradilan, namun lapangan kerja cenderung stabil dan terbatas, sehingga menciptakan persaingan ketat.
5. Manajemen Proyek
Pengangguran di jurusan ini tercatat sebesar 52,8 persen. Walaupun keterampilan manajemen proyek dibutuhkan di banyak industri, perusahaan umumnya mencari tenaga kerja dengan pengalaman. Sehingga lulusan baru kesulitan bersaing.
6. Produksi Radio, Televisi, dan Film
Jurusan ini memiliki tingkat pengangguran sebesar 52,6 persen. Industri hiburan ini sangat dinamis dan sulit diprediksi, serta bergantung pada jaringan dan pengalaman.
Jadi wajar, jika lulusan di bidang ini bisa kesulitan menemukan pekerjaan tetap.
7. Bidang Seni Studio
Program Bidang Seni Studio juga menghadapi tantangan besar, dengan tingkat pengangguran mencapai 52 persen. Jurusan ini meliputi seni visual, tetapi ketidakpastian pendapatan serta minimnya pekerjaan tetap membuat lulusan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang stabil.
8. Administrasi Layanan Kesehatan
Dengan tingkat pengangguran 51,8 persen, jurusan ini menjadi pilihan lain dengan risiko pengangguran tinggi. Meski sektor kesehatan terus berkembang, lulusan di bidang administrasi kesehatan bersaing ketat dengan mereka yang memiliki latar belakang medis atau sertifikasi khusus.
9. Pendidikan
Jurusan selanjutnya yaitu pendidikan yang memiliki tingkat pengangguran 51,8 persen. Jurusan ini sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dan, di beberapa daerah, kesempatan kerja untuk tenaga pengajar mengalami penurunan, sehingga lulusan harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan pekerjaan.
10. Pengembangan Manusia dan Keluarga
Terakhir, jurusan Pengembangan Manusia dan Keluarga dengan tingkat pengangguran 51,5 persen. Fokusnya pada perilaku manusia dalam konteks keluarga dan masyarakat, namun peluang kerja dalam bidang ini seringkali tidak sebanding dengan jumlah lulusan yang ada. (sic)


