warta lentera great work
spot_img

Lihat Situasi Politik RI, Dana Asing Ditarik Keluar Rp1,61 Triliun dalam Tiga Hari

Aksi demo tekan investor asing beli saham.

WARTALENTERA-Lihat situasi politik RI, dana asing ditarik keluar Rp1,61 triliun dalam tiga hari. Investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) dalam tiga hari terakhir bursa saham Indonesia, Rabu (27/8/2025) hingga Jumat (29/8/2025).

Melansir laporan resmi statistik harian Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (1/9/2025), total net sell asing mencapai Rp1,61 triliun, masing-masing Rp212,58 miliar pada Rabu, Rp278,76 miliar pada Kamis, dan Rp1,12 triliun pada Jumat. Kendati demikian, secara akumulatif sepanjang pekan terakhir masih terjadi net buy asing senilai Rp1,49 triliun.

Hal ini ditopang oleh aksi beli bersih yang cukup besar pada awal pekan, tepatnya Senin dan Selasa. Mulainya aksi demonstrasi sejak Kamis, disebut menjadi salah satu faktor yang menekan minat beli investor asing.

Tekanan ini terlihat dari lonjakan nilai jual bersih asing yang signifikan pada perdagangan Jumat. Terlebih hal ini juga berdampak dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) yang turun 1,53 persen di 7.830,49.

Phintraco Sekuritas menilai fokus perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada perkembangan situasi keamanan dan politik dalam negeri. “Jika gangguan keamanan meluas, dikhawatirkan akan berdampak pada turunnya kepercayaan investor yang dapat mengakibatkan outflow investor asing, lemahnya rupiah, meningkatnya risiko investasi dan berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi jika berlangsung lama,” tulis Phintraco Sekuritas dalam riset, Senin (1/9/2025).

Apabila ketidakpastian politik berlangsung lama, dampaknya juga dapat menjalar pada fundamental makro ekonomi dan kinerja emiten. Di sisi lain, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis pada 1 September, yakni PMI manufaktur, neraca perdagangan, inflasi, serta data kunjungan wisatawan.

Dari sisi teknikal, Phintraco memperkirakan IHSG berpotensi kembali menguji level 7.800. Jika mampu bertahan di level ini, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways di kisaran 7.800-7.900.

Namun, apabila IHSG ditutup di bawah level 7.760, indeks berpotensi menguji support di 7.630-7680. Sebaliknya, jika kondisi pasar sudah kondusif, IHSG memiliki peluang menguji resistance di level 7.900-7.940.

Terpisah, Technical Analyst WH Project, William Hartanto menilai IHSG telah menutup gap yang memanfaatkan sentimen aksi demo. Namun, IHSG dinilai belum sepenuhnya lepas dari tekanan, terlebih sejak terbentuk pola double top setelah dua kali gagal bertahan di atas level 8.000.

“Meski demikian, IHSG telah berhasil membentuk all time high baru pada 8.022,” tulis WH Project. Walaupun IHSG anjlok lebih dari 2 persen akibat demonstrasi nasional, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) melihat peluang emas di tengah badai.

Dengan foreign inflow masih mencapai Rp1,3 triliun pekan lalu, sekuritas terkemuka ini mengidentifikasi sektor-sektor yang justru akan meraup keuntungan dari ketidakpastian politik. “Meskipun Jumat kemarin masih terlihat aliran dana asing masuk cukup besar di IHSG, tapi tidak menutup kemungkinan mereka balik arah karena efek ketidakpastian politik dalam negeri,” tegas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan.

Diketahui, selama sepekan terakhir IHSG ditutup di level 7.830 atau melemah kurang lebih 0,36 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Di masa pelemahan IHSG minggu lalu, investor asing melakukan pembelian (inflow) mencapai Rp1,3 triliun di pasar reguler.

Menariknya, pada pekan lalu IHSG sempat menyentuh area level tertinggi yaitu di level 8023 pada tanggal 28 Agustus 2025, namun anjlok cukup dalam setelah efek demo dan ketidakpastian kondisi politik dalam negeri. (sic)

 

 

RELATED
- Advertisment -
warta lentera beautiful day

PROFILE

Most Popular