x wartalentera.com skyscraper
x wartalentera.com skyscraper

Tupperware "Bangkit dari kebangkrutan", Ini Dewa Penyelamatnya

Editor :

WARTALENTERA - Kabar gembira untuk para ibu sedunia. Pasalnya, merek dagang Tupperware yang disangka akan gulung tikar, ternyata bisa kembali bangkit dari kebangkrutan.

Hakim Kepailitan di Pengadilan Amerika Serikat (AS), Brendan Shannon, menyetujui usulan Tupperware untuk menjual asetnya kepada kreditur pada sidang pengadilan di Wilmington, Delaware, Selasa (29/10/2025) lalu. Hal ini merupakan langkah yang dapat dilakukan perusahaan wadah makanan dan minuman asal Massachusetts, AS itu untuk keluar dari kebangkrutan.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Tupperware akan menjual nama merek dan aset utamanya kepada sekelompok pemberi pinjaman dengan harga USD23,5 juta tunai (sekitar Rp369 miliar) dan USD63 juta (Rp991 miliar) dalam bentuk keringanan utang. "Ini adalah situasi yang sangat membutuhkan resolusi global yang luas," kata seorang pengacara yang mewakili Tupperware, selama sidang Pengadilan Kepailitan AS, Spencer Winters, melansir Daily Mail, dikutip Kamis (7/11/2024).

Winters menyebut perjanjian penjualan itu sebagai hasil yang luar biasa. Hal ini, menurutnya, akan mempertahankan bisnis, hubungan pelanggan, dan pekerjaan di Tupperware.

Perjanjian penjualan tersebut juga mengharuskan Tupperware untuk menjadi perusahaan swasta di bawah kepemilikan yang mendukung dari kelompok pemberi pinjaman pembelian. Meliputi, manajer dana lindung nilai Stonehill Capital Management dan Alden Global Capital.

Berdasarkan kesepakatan perusahaan tersebut, pihaknya menjadi perusahaan swasta dan dihapus dari bursa saham.

Sejarah Panjang Tupperware

Tupperware didirikan pada 1946 oleh ahli kimia Earl Tupper. Produk wadah plastik kedap udaranya membantu makanan bertahan lebih lama bagi keluarga yang masih berjuang setelah perang dan Depresi Besar.

Merek tersebut memperoleh popularitas pada pertengahan abad ke-20 dengan "pesta Tupperware" yang terkenal. Model penjualan langsung yang memberi banyak wanita kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjual kepada teman dan tetangga.

Sementara merek tersebut berkembang untuk mencakup berbagai produk dapur selama bertahun-tahun, persaingan dari pesaing baru- seperti Rubbermaid dan OXO- serta pergeseran preferensi konsumen ke arah wadah kaca mengikis dominasinya. Perusahaan berusia 78 tahun tersebut telah berjuang selama bertahun-tahun untuk menghidupkan kembali peruntungannya.

Pandemi memberi Tupperware dorongan penjualan sementara karena lebih banyak orang memasak di rumah. Tetapi itu tidak cukup untuk mengimbangi perjuangan merek tersebut.

Sebelumnya, Tupperware telah mencari pihak yang dapat membeli perusahaan mereka selama berbulan-bulan sebelum pengajuan kebangkrutan ke pengadilan. Namun pengacara Tupperware, Spencer Winters, kala itu mengatakan, belum ada pihak yang bersedia untuk melunasi utang Tupperware sebesar USD818 juta.

Beberapa firma investasi seperti Stonehill Capital Management Partners dan Alden Global Capital sebelumnya mengakuisisi utang Tupperware dengan potongan harga yang cukup besar pada musim panas. Firma investasi tersebut menyediakan USD23,5 juta dalam bentuk tunai dan USD63 juta dalam bentuk keringanan utang.

Penjualan Tupperware mencakup seluruh aset yang ada di Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Brasil, Tiongkok, Korea, India, dan Malaysia. Ke depan, CEO Tupperware, Laurie Ann Goldman, menyatakan Tupperware berencana beralih ke model bisnis yang menggunakan digitalisasi dan tidak bergantung pada aset.

“Digital-first, berbasis teknologi, dan aset-light setelah bangkit dari kebangkrutan,” kata CEO Tupperware Laurie, Ann Goldman, dalam sebuah pernyataannya, belum lama ini. Perusahaan yang berkantor pusat di Orlando, Florida, itu mengajukan perlindungan Bab 11 bulan lalu dan berusaha melelang aset-asetnya di pasar terbuka.

Namun, pemberi pinjaman Tupperware menentang rencana penjualan perusahaan itu, dan memilih untuk mengeklaim aset-aset itu untuk diri mereka sendiri. Para pemberi pinjaman memutus akses perusahaan ke uang tunai di awal kebangkrutan, sebelum kedua belah pihak menyetujui kesepakatan.

Di tengah utang lebih dari USD1,2 miliar, perusahaan itu akhirnya mengajukan kebangkrutan pada September 2023. (sic)

Berita Terbaru
Kamis, 29 Okt 2026 08:23 WIB

Pemerintah Singapura Panggil Perusahaan Terduga Pemicu Kabut Asap Lintas Batas

Pemerintah Singapura memanggil perusahaan yang diduga pemicu kabut asap lintas negara.
Rabu, 28 Okt 2026 11:03 WIB

Penghargaan Samkaryanugraha Diberikan Kepada 4 Satuan TNI AL

Presiden Prabowo Subianto memberikan penghargaan Samkaryanugraha kepada empat satuan TNI AL.
Rabu, 28 Okt 2026 09:04 WIB

Unjuk Rasa Mahasiswa BEM UI, Hindari Kawasan Monas dan Bundaran HI

Demo Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama koalisi masyarakat sipil berjalan tertib.
Selasa, 27 Okt 2026 22:06 WIB

Putra Daerah Ini Mampu Sabet Gelar Juara Kejurnas Tinju Amatir Pertina 2026

Pelajar SMAN 10 Galang, Batam Rempang meraih medali perunggu di Kejurnas Tinju Amatir Pertina 2026.
Senin, 26 Okt 2026 19:47 WIB

Bangun 100 Sekolah Rakyat di 32 Provinsi, Serap 97 Ribu Tenaga Kerja

Pemerintah telah membangun Sekolah Rakyat Tahap II di 100 lokasi dengan daya tampung 122 ribu siswa.
Senin, 26 Okt 2026 13:01 WIB

Perkuat Tata Kelola Arus Saham, BEI Tambah Anggota HSC

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan keanggotaan Komite High Shareholding Concentration (HSC) yang baru.