x  skyscraper
x  skyscraper

83,1 Persen Publik Indonesia Menentang Serangan AS-Israel ke Iran

WARTALENTERA - Serangan AS-Israel ke Iran mendapat kecaman tajam masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Hasil survei nasional menemukan sebanyak 83,1 persen publik Indonesia menentang agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel tersebut.

Temuan survei nasional ini dilakukan tiga lembaga survei, yakni Indikator Politik Indonesia (IPI), Lembaga Survei Indonesia (LSI_Lembaga), dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Survei bertajuk “Legitimasi Publik atas Perang AS-Israel dengan Iran” tersebut dilakukan pada periode 12-31 Maret 2026.

Dalam presentasi hasil survei, Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Prof. Burhanuddin Muhtadi, Ph.D., mengungkapkan, hanya 4,9 persen warga yang menyetujui serangan tersebut, 7,4 persen menyatakan antara setuju dan tidak setuju, dan 4,5 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

“Legitimasi publik Indonesia untuk serangan AS-Israel ke Iran sangat kecil,” kata Burhanuddin di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Dijelaskan, sebanyak 59,4 persen masyarakat Indonesia juga menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju dengan perspektif yang menyatakan bahwa serangan AS-Israel ke Iran tidak bisa dihindarkan karena Israel terancam oleh Iran yang dianggap akan menyerang dengan senjata nuklir.

Burhanuddin bilang, hanya 22 persen warga yang setuju atau sangat setuju dengan alasan tersebut, 13,5 persen antara setuju dan tidak setuju, dan 5,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

“Alasan serangan AS-Israel ke Iran tidak legitimate di Indonesia,” ujarnya lagi.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani M.Si., mengatakan, populasi survei nasional ini adalah semua warga negara Indonesia dewasa, berumur 17 tahun atau lebih atau telah menikah, yang memiliki cellphone, atau sekitar 80 persen dari populasi Indonesia.

Deni juga menjelaskan, karena opini tentang perang tersebut sangat erat kaitannya dengan berita dari berbagai sumber dan dapat diakses lewat internet atau media lain, maka populasi yang memiliki cellphone, diperkirakan lebih terpapar pada berita tentang perang ini dibanding yang tak punya telepon dan tak bisa mengakses berita perang tersebut lewat berbagai media.

"Karena itu populasi pemilik telepon ini valid dijadikan sasaran dalam survei ini," ujar Deni.

Namun demikian, lanjut Deni, untuk kepentingan representasi opini publik nasional, sebelum analisis dilakukan pembobotan atas sampel yang diperoleh dalam survei ini menurut karakteristik populasi nasional yang berumur 17 tahun plus.

"Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 1.066. Jumlah ini cukup stabil dalam dua kali margin of error (6 persen, Red)," ucapnya. (inx)

Berita Terbaru
Senin, 08 Jun 2026 22:07 WIB

Shin Tae-yong Resmi Dipinang Persija Jakarta

WARTALENTERA - Shin Tae-yong (STY) akhirnya berlabuh di Persija Jakarta. Pelatih asal Korea Selatan itu bakal menjadi pelatih kepala baru mereka mulai musim
Senin, 08 Jun 2026 11:57 WIB

Rangkaian Gempa Bumi di Sulawesi Bukan Karena Megathrust

WARTALENTERA - Aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina diprediksi yang menyebabkan rangkaian gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 di Laut Sulawesi yang
Senin, 08 Jun 2026 08:23 WIB

Profesor Johan Silas, Tokoh Arsitek Ini Berpulang

WARTALENTERA - Profesor Johan Silas, tokoh arsitek dan pendidikan Indonesia tutup usia. Prof Silas dikabarkan meninggal hari ini, Senin (8/6/2026) melalui
Minggu, 07 Jun 2026 18:38 WIB

Huntara Ini Menampung Korban Bencana Tanah Bergerak

WARTALENTERA - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memantau perbaikan Hunian Sementara (Huntara) bagi korban bencana tanah bergerak di Desa Padasari,
Sabtu, 06 Jun 2026 15:28 WIB

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Kurangi Efek Rumah Kaca

WARTALENTERA - Menandai momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema nasional "Saatnya Beraksi untuk Iklim", PT Jasa Marga (Persero) Tbk
Sabtu, 06 Jun 2026 10:15 WIB

38 Tahun Penantian Itu Berbuah Manis!

WARTALENTERA - Timnas Indonesia bikin gegap gempita seluruh Gelora Bung Karno (GBK) tadi malam. Setelah penantian selama 38 tahun, akhirnya tim Garuda mampu