WARTALENTERA-Paus Leo XIV kritik keras AS. Pemimpin Gereja Katolik Dunia Paus Leo XIV mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghentikan perang. Ia dengan tegas mengecam perang yang dilancarkan AS dan Israel kepada Iran dan meminta untuk mencari jalan keluar diplomatik dari konflik Iran yang semakin meluas, seiring meningkatnya korban jiwa di seluruh wilayah tersebut.
“Saya diberitahu bahwa Presiden Trump baru-baru ini menyatakan Ia ingin mengakhiri perang. Mudah-mudahan Ia mencari jalan keluar. Mudah-mudahan ia mencari cara untuk mengurangi kekerasan,” kata Paus kepada wartawan di luar kediamannya di Castel Gandolfo dekat Roma, Italia, melansir Anadolu, dikutip Kamis (2/4/2026).
Komentar tersebut menandai intervensi langsung yang tidak biasa dari Paus Leo, yang telah meningkatkan kritik terhadap konflik yang meletus setelah serangan udara gabungan AS-Israel terhadap Iran. Paus Leo juga menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya korban sipil dan menyerukan penghentian segera eskalasi sebelum Paskah pada 5 April.
“Ada begitu banyak kematian, termasuk anak-anak yang tidak bersalah,” kata Paus Leo. “Mari kita terus menyerukan perdamaian. Terlalu banyak orang yang mempromosikan perkelahian, kekerasan (dan) perang,” tandasnya.
Sebelumnya, Paus Leo pada perayaan Hari Minggu Palma mengatakan, Tuhan menolak doa para pemimpin yang melancarkan perang dan memiliki “tangan yang penuh darah.” Sebelumnya, Paus Leo menyampaikan pesan di hadapan puluhan ribu orang saat perayaan Minggu Palma yang sekaligus merupakan momen penting membuka pekan paling suci menjelang Paskah.
Pesan tersebut ia sampaikan di tengah perang antara AS dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari. Pemimpin tertinggi umat Katolik menyebut Yesus tidak dapat digunakan untuk membenarkan perang apa pun.
“Inilah Tuhan kita, Yesus Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” kata paus pertama asal Amerika Serikat kepada umat Katolik di Pelataran Basilika Santo Petrus, Vatikan, melansir Reuters, Minggu (29/3/2026).
“(Yesus) tidak mendengarkan doa orang-orang yang memicu perang, tetapi menolaknya, dengan mengatakan, ‘sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan, tanganmu penuh darah,'” tegas Paus Leo, mengutip ayat Alkitab.
Washington kemudian menanggapi pesan dari pemimpin umat Katolik Dunia tersebut terkait perang. “Negara kita adalah negara yang didirikan hampir 250 tahun lalu, hampir sepenuhnya berdasarkan nilai-nilai Yudaisme-Kristiani. Kita sudah menyaksikan para presiden, para pemimpin Kementerian Perang, dan para tentara kita berdoa di masa-masa paling bergejolak dalam sejarah bangsa kita,” kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dikutip dari Newsweek.
“Saya rasa tidak ada yang salah dengan para pemimpin militer kami atau dengan presiden yang menyerukan rakyat Amerika untuk berdoa bagi para anggota militer kita di luar negeri. Jika Anda berbicara dengan begitu banyak personel militer, mereka menghargai doa dan bahkan didukung para komandan militer serta kabinet,” ia menambahkan.
Paus Leo XIV sempat menceritakan kisah Yesus jelang penyalibannya seperti terdapat dalam Alkitab. Kata Paus Leo, sebelum ditangkap, Yesus menegur salah satu pengikutnya karena menyerang orang yang hendak menangkapnya dengan pedang.
“(Yesus) tidak mempersenjatai diri, tidak membela diri, dan tidak berperang. Ia menyingkapkan wajah Tuhan yang penuh kelembutan, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri, Ia membiarkan diri-Nya disalibkan,” pungkasnya.
Diketahui, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, memicu ketegangan di Timur Tengah. Sebagai respons, Negeri Para Mullah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan, termasuk pengendalian ketat Selat Hormuz yang vital lantaran dilalui 20 persen minyak mentah dan gas alam cair dunia. (sic)


