WARTALENTERA–Seorang pelajar kelas 2 SMK berinisial MNC (17), warga Pademangan Barat, Jakarta Utara, menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh kakak kelasnya di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Jakarta Pusat.
Ayah korban, MN (59), mengatakan bahwa aksi pengeroyokan terhadap anak lelakinya itu terjadi sebanyak dua kali dan menyebabkan anaknya mengalami luka-luka. “Saya sudah membuat laporan atas kejadian pengeroyokan terhadap anak saya ke Polres Jakarta Utara pada Selasa (20/5),” ujar MN di Jakarta, Rabu.
MN menjelaskan bahwa pengeroyokan tersebut terjadi setelah anaknya menolak ajakan tawuran. Saat itu, korban menemukan sebilah celurit yang tertinggal dan kemudian menjualnya kepada temannya seharga Rp170 ribu. “Senjata ini dijual kepada teman korban seharga Rp170 ribu,” jelas MN.
Namun, pemilik asli senjata tajam tersebut mengetahui peristiwa itu dan menuntut ganti rugi sebesar Rp400 ribu. MNC sempat berjanji akan mengganti uang tersebut, namun beberapa hari kemudian, korban justru diajak ke suatu tempat dan dikeroyok oleh sejumlah kakak kelasnya. “Mereka yang mengeroyok anak saya sekitar 15 orang. Mereka memukul dengan tangan serta batu, ada belasan orang yang mengeroyok,” tutur MN.
Setelah kejadian itu, keluarga korban mencoba mencari keadilan dengan mendatangi pihak sekolah. Namun, mereka mengaku tidak mendapatkan tanggapan yang memadai dari pihak sekolah. “Pihak sekolah mengaku yang mengeroyok memang siswa di sekolah tersebut. Sebagian sudah lulus dan ada juga yang masih sekolah. Cuma pihak sekolah tidak mau tahu tentang aksi itu karena kejadiannya ada di luar sekolah,” kata MN.
Peristiwa ini menambah daftar kekerasan di lingkungan pelajar yang masih sering terjadi. Keluarga korban berharap ada keadilan dan perlindungan bagi siswa yang menjadi korban kekerasan, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. (kom)


