WARTALENTERA-Rombongan pionir petugas haji diberangkatkan hari ini. Sebanyak 348 Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 resmi berangkat perdana dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Jumat (17/4/2026).
Keberangkatan kloter pertama itu menandai dimulainya fase operasional perlindungan dan pelayanan bagi jemaah haji Indonesia yang akan segera tiba di Tanah Suci. Sebelum bertolak, ratusan petugas tersebut mengikuti pembekalan intensif di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, sejak kemarin, untuk memantapkan koordinasi teknis dan mental petugas setelah jeda masa libur Lebaran.
Direktur Bina Petugas Haji Reguler Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Chandra Sulistio Reksoprodjo, menegaskan bahwa momentum ini sangat krusial untuk mengembalikan fokus petugas. “Pembekalan ini untuk merefresh kembali setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan,” ungkap Chandra di hadapan para petugas.
Chandra mengingatkan bahwa petugas haji bukan sekadar pelayan, melainkan representasi langsung dari martabat bangsa Indonesia di mata dunia. Profesionalisme dalam bersikap, bertutur kata, hingga kepatuhan terhadap aturan bea cukai Arab Saudi menjadi harga mati yang tidak boleh dilanggar.
“Saat bertugas, jamaah dari seluruh negara akan melihat kita. Kita tidak ingin wajah negara tercoreng karena pelanggaran tata tertib dari petugas haji,” tuturnya. Ia memberikan penekanan khusus pada hal-hal detail, termasuk disiplin dalam penggunaan seragam dan atribut identitas lengkap selama bertugas.
Hal ini dinilai penting agar jemaah haji Indonesia dapat dengan mudah mengenali dan mendapatkan bantuan dari petugas resmi di tengah kepadatan massa. Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Pengendalian Haji dan Umrah Kemenhaj, Harun Al-Rasyid, menyoroti tantangan berat yang akan dihadapi petugas saat fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Ia meminta seluruh petugas untuk mempersiapkan stamina dan dedikasi ekstra guna mengawal kenyamanan jemaah. “Pelayanan jemaah haji maksimal selama proses ibadah di Armuzna. Wujudkan layanan terbaik untuk seluruh jamaah haji kita,” tegas Harun.
Rombongan perdana ini diproyeksikan segera menempati pos pelayanan di Daerah Kerja (Daker) Bandara dan Madinah untuk memastikan seluruh fasilitas siap digunakan sebelum kloter pertama jemaah haji tiba di Arab Saudi dalam waktu dekat. Pembekalan diakhiri dengan doa bersama untuk memastikan seluruh rangkaian tugas berjalan lancar dan seluruh jemaah Indonesia mendapatkan pelayanan terbaik hingga meraih predikat mabrur.
Sementara itu, Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI Dahnil Anzar Simanjuntak, mengingatkan petugas haji agar menyiapkan mental sebelum bertugas di Tanah Suci. Sebab, tugas melayani jemaah tidak mudah karena sebagian besar jemaah berasal dari latar belakang sederhana, termasuk lulusan Sekolah Dasar (SD). Selain itu, mayoritas jemaah juga masuk kelompok rentan lantaran memiliki penyakit resiko tinggi (Risti).
“Sebagian besar jemaah kita itu 55.000 orang jemaah kita itu hanya lulusan SD. 56.000 lagi itu hanya lulusan SMP dan SMA,” jelas Danhil saat memberi arahan kepada Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (17/4/2026).
Mayoritas jemaah juga masuk kategori berisiko tinggi dari sisi kesehatan dan lansia. Jika dihitung, dari 203.000 calon jemaah, sebanyak 177.000 di antaranya merupakan kelompok rentan atau berisiko.
“Bahkan 25% jemaah kita itu adalah orang-orang yang sepuh, orang-orang yang tua. 177.000 dari total 203.000 jamaah reguler Indonesia itu adalah orang-orang yang dikategorikan Risti atau berisiko tinggi terutama terkait dengan kesehatan,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, Dahnil meminta petugas bekerja maksimal dan tidak mengkhianati harapan jemaah.
Ia juga mengingatkan agar seluruh petugas tetap kompak dan mengikuti arahan pimpinan selama bertugas di Tanah Suci. “Oleh sebab itu, jangan mengkhianati harapan mereka untuk bisa menunaikan naik haji dengan baik. Mari kita tunaikan pelayanan kita semaksimal mungkin dengan kondisi jemaah yang saya jelaskan tadi,” pintanya.
Dahnil pun menekankan agar para petugas dapat menyiapkan mental sebelum bertugas. Terlebih mereka akan bertugas cukup lama.
“Rata-rata lama tinggal Anda di Saudi Arabia atau di Tanah Suci, baik itu Madinah, baik itu Makkah secara keseluruhannya bisa mencapai 70 hari,” ujarnya. Dahnil menekankan, lamanya waktu bertugas menjadi tantangan tersendiri karena petugas harus meninggalkan keluarga.
Karena itu, Dahnil meminta petugas tidak hanya siap fisik, tetapi juga mental. “Oleh sebab itu, persiapan mental, mengelola mental itu hal yang penting,” ucapnya. (sic)


