WARTALENTERA – Dengan metode induksi laktasi, memungkinkan ibu adopsi atau ibu angkat untuk memberikan ASI pada bayi yang diadopsinya. Bahkan, metode induksi laktasi bisa merangsang produksi ASI pada wanita yang ingin menyusui bayi tanpa kehamilan. Seperti apa?
Pada dasarnya, tubuh bisa memproduksi ASI tanpa pernah hamil atau melahirkan sebelumnya. Namun, ibu tetap membutuhkan proses untuk merangsang ASI agar bisa keluar dari payudara.
Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proses laktasi melibatkan unsur hormonal. Umumnya, ibu yang sedang mengandung mulai memproduksi ASI saat hamil 16 minggu.
Saat bayi lahir dan mengisap puting payudara ibu, isapan tersebut mengirim sinyal hipofisis pada bagian otak. Sinyal hipofifsis akan mengeluarkan hormon prolaktin yang masuk ke dalam aliran darah, kemudian refleks prolaktin berperan dalam menjaga produksi ASI.
Memproduksi ASI pada wanita yang tidak hamil sebelumnya, seperti ibu angkat atau ibu adopsi, dilakukan dengan mengosongkan payudara. Dalam hal ini ada tiga tahap, menyusui, memompa, atau memerah dengan tangan.
Ketiga teknik ini bisa dibarengi dengan penggunaan berbagai obat-obatan, suplemen, atau jamu untuk meningkatkan produksi ASI.
Mengutip dari La Leche League USA, Jack Newman, Konsultan Laktasi Bersertifikat Internasional, membagi proses induksi laktasi menjadi tiga tahap berikut.
1. Mempersiapkan payudara untuk menyusui
Bagaimana tubuh memproduksi ASI? Mengingat ibu adopsi sebelumnya tanpa melalui proses kehamilan, Anda perlu mempersiapkan payudara untuk menyusui karena tubuh tidak memproduksi hormon kehamilan. Hormon kehamilan ini berfungsi dalam memproduksi hormon prolaktin (hormon menyusui).
Untuk mempersiapkan payudara, ibu bisa melakukan terapi hormon untuk mengembangkan jaringan kelenjar payudara. Petugas kesehatan mungkin akan meresepkan terapi hormon berupa penambah hormon estrogen dan progesteron untuk meniru efek kehamilan.
Selain itu, petugas medis juga akan memberikan galactagogue yang mampu meningkatkan produksi ASI secara alami.
Terapi ini bisa Anda lakukan selama beberapa bulan dan berhenti saat dua bulan menjelang menyusui bayi. Tujuannya untuk mendorong produksi ASI dan melepas hormon prolaktin.
Anda mungkin sudah tahu kalau menyusui secara langsung merupakan metode paling baik untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi 0-6 bulan. Meski begitu, ada beberapa kondisi yang mengharuskan ibu menyusui melakukan eping atau exclusive pumping. Nah, sebelum memutuskan atau menjalani eping, ada baiknya Anda memahami dulu makna serta hal-hal lainnya mengenai alternatif pemberian ASI ini.
2. Memproduksi ASI sebelum bayi lahir
Pada ibu angkat atau ibu adopsi, produksi ASI akan lebih lambat daripada ibu yang sebelumnya hamil. Biasanya, produksi ASI pada proses induksi laktasi akan meningkat saat 3-5 hari setelah kelahiran bayi.
Beberapa cara yang bisa ibu lakukan untuk meningkatkan produksi ASI sebelum bayi lahir yaitu memompa ASI, mengonsumsi suplemen penambah ASI, dan pijat payudara.
Memompa ASI saat payudara dalam keadaan kosong dan tidak ada rangsangan hormon prolaktin mungkin akan terasa menyakitkan. Lakukan secara perlahan dan tidak perlu terburu-buru. Setiap satu sesi memompa ASI, lakukan selama 5-10 menit.
Setelah merasa nyaman, bisa ibu tingkatkan menjadi 15-20 menit. Rutinitas ini perlu Anda lakukan sampai mulai menyusu bayi yang Anda adopsi.
3. Menyusui bayi secara langsung
Ini adalah saat yang paling penting dalam proses induksi laktasi, Anda bisa langsung menyusui bayi secara langsung.
Setelah berbagai latihan yang Anda lakukan untuk meningkatkan produksi ASI, kini bisa Anda praktikkan pada si Kecil.
ASI akan mulai keluar dalam waktu 6-8 minggu sejak mulai proses induksi laktasi. Jadi, bila Anda sudah melakukan proses induksi 6 minggu yang lalu, ASI seharusnya sudah mulai keluar.
Faktor keberhasilan
Ada beberapa faktor yang menentukan keberhasilan saat melakukan induksi laktasi. Mulai dari faktor yang berhubungan dengan bayi sampai ibu.
Berikut hal-hal yang memengaruhi keberhasilan induksi laktasi, mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
1. Keinginan bayi untuk menyusu
Induksi laktasi bisa berhasil bila bayi segera menyusu saat payudara sudah mendekat. Awalnya, bayi pasti membutuhkan bantuan untuk mencari perlekatan payudara yang benar.
Namun, ketika bayi menolak untuk menyusu di fase awal, ini adalah masalah menyusui yang wajar dan sering terjadi. Ini karena bayi masih kesulitan untuk melekat pada payudara dan butuh bantuan tenaga kesehatan.
Ibu tidak perlu khawatir akan hal ini. Susui bayi sesering mungkin agar ia terlatih dan terbiasa menyusu secara langsung.
2. Usia bayi
Induksi laktasi akan lebih mudah ibu lakukan saat bayi baru lahir sampai usianya kurang dari 8 minggu.
Pasalnya, saat usia bayi masih sangat muda, ia melatih diri untuk lebih dekat dengan ibunya sehingga pembiasaan menyusu dari payudara ibu lebih mudah.
3. Kondisi payudara ibu
Induksi laktasi bisa berjalan dengan tidak lancar bila ada infeksi, luka, atau bentuk puting payudara ibu yang rata (flat nipple).
Namun, bukan berarti ibu tidak bisa menyusui bayi secara langsung. Ibu bisa menyembuhkan infeksi atau perawatan puting payudara terlebih dahulu dengan konselor laktasi. Seiring berjalannya waktu, ibu bisa menyusui si kecil kembali.
4. Kemampuan ibu berinteraksi dengan bayi
Mencoba menyusui bayi yang bukan dari dalam kandungan sendiri, mungkin membuat perasaan ibu kurang dekat. Namun, kemampuan ibu berinteraksi dengan bayi juga bisa memengaruhi keberhasilan induksi laktasi.
Meski bukan anak kandung, bila ibu memberikan rasa kasih sayang terhadap bayi, ia akan merasakan hal yang sama. Si Kecil akan merasa ibu sangat menyayangi dan membutuhkannya.
5. Rutin melakukan skin-to-skin
Kontak kulit dengan bayi (skin-to-skin) meski tidak sedang menyusu bisa meningkatkan keberhasilan induksi laktasi.
Anda bisa mencoba metode kangguru dengan menempatkan bayi di atas dada, lalu tidur bersama. Lakukan ini saat siang atau malam hari, dekap tubuh si Kecil agar bayi merasa nyaman dan aman dekat Anda.
Hal yang perlu dilakukan jika induksi laktasi tidak berhasil
Mungkin Anda merasa kecewa saat semua usaha untuk menyusui bayi secara langsung sudah dilakukan,tetapi tidak ada yang berhasil. Hindari memaksa bayi untuk menyusu karena akan membuatnya trauma dan tidak nyaman.
Anda bisa mencari donor ASI atau memberikan susu formula pada bayi dengan alat bantu.
Mengutip dari IDAI, ibu bisa menggunakan alat bantu berupa pipa nasogastrik (selang NGT). Lalu, sisi lainnya bisa ibu tempelkan di payudara.
Ibu bisa mengontrol aliran susu dengan menaikkan dan merendahkan cangkir saat bayi menyusu.
Sebenarnya, produksi ASI yang Anda hasilkan dari induksi laktasi mungkin tidak sebanyak ibu yang mengalami kehamilan. Ini karena ibu yang melakukan induksi laktasi tidak mendapat pengaruh hormon kehamilan.
Namun, ibu tetap bisa rutin memerah ASI dan menyusui bayi untuk mendapat hasil yang cukup. Tidak perlu berkecil hati bila produksi ASI terasa sedikit, ibu masih bisa memberikan gizi dan nutrisi bayi dari donor ASI atau susu formula. (inx)


