WARTALENTERA-Setiap tahun ada sekitar 12.000 kasus kelainan jantung bawaan pada anak-anak di Indonesia. Setengah di antaranya tidak tertangani dan meninggal karena kurangnya dokter dan alat kesehatan yang memadai.
Salah satu upaya untuk meminimalisasi kegagalan operasi jantung pada anak dan kekurangan tenaga medis, RI dan Arab Saudi melakukan kerjasama untuk memperkuat hubungan bilateral di bidang kesehatan. Salah satu poin kerjasama yang tertuang dalam MoU kedua belah pihak, ada terkait kerja sama meliputi bantuan dari King Salman Relief dalam operasi jantung di Indonesia.
Bantuan dokter-dokter dari King Salman Relief sangat penting, mengingat Indonesia menghadapi masalah besar terkait kelainan jantung bawaan pada anak-anak. Selain juga, kerjasama dalam hal kolaborasi para dokter Saudi untuk berpraktik di Indonesia dan juga dokter Indonesia belajar di Saudi, peningkatan kemampuan bahasa Inggris dan Arab, program penyiapan ujian kompetensi keperawatan Prometric, beasiswa pendidikan keperawatan, fellowship program, hingga pertukaran sumber daya manusia kesehatan.
Hal itu tertuang dalam MoU yang ditandatangani Menteri Kesehatan Arab Saudi Fahad Abdulrahman Al Jalajel dan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, Selasa (25/2/2025) kemarin. Menkes Budi mengatakan, MoU ini akan membuka peluang lebih besar bagi kedua negara untuk dapat bertukar keahlian dalam bidang kesehatan, termasuk pembelajaran dan pengembangan keahlian antara organisasi-organisasi yang terlibat.
“Melalui pertukaran SDM, kami berharap dapat meningkatkan standar pendidikan dan perawatan kesehatan, serta memperkuat kapasitas sumber daya manusia di Indonesia,” ucapnya, dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip Rabu (26/2/2025). Ia menambahkan, bisa banyak dokter dari King Salman Relief yang bisa membantu meningkatkan operasi jantung di Indonesia.
Selain itu, kerja sama ini juga mencakup pengembangan sistem digitalisasi sertifikat vaksinasi bagi jamaah haji dan umrah. “Kita berharap ada pertukaran sistem digital untuk sertifikat vaksin meningitis dan polio. Karena jumlah jamaah haji dan umrah yang besar membuat proses ini menjadi lebih efisien jika didigitalisasi,” harapnya.
Di sisi lain, Menteri Kesehatan Arab Saudi Fahad Abdulrahman Al Jalajel menyampaikan, bahwa negaranya sedang menjalani transformasi besar di bidang kesehatan sebagai bagian dari Visi 2030. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah pengalihan rumah sakit pemerintah menjadi perusahaan milik negara untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan kesehatan.
“Di Arab Saudi, kami sedang melakukan perubahan besar di sektor kesehatan, dan kami berharap dapat berbagi pengetahuan serta pengalaman dalam hal manajemen rumah sakit dan layanan kesehatan dengan Indonesia,” katanya, dalam lawatan dua hari di Indonesia itu. Delegasi Arab Saudi juga menandatangani beberapa MoU dengan tiga universitas terkemuka lainnya di Indonesia yang juga berfokus pada pengembangan tenaga kerja.
Salah satu bentuk kerja sama yang akan dilakukan adalah pelatihan tenaga medis di Indonesia dan Arab Saudi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor kesehatan. “Kerja sama ini juga akan mencakup pelatihan di kedua negara, yang diharapkan dapat menciptakan tenaga kerja yang lebih baik dan terampil di bidang kesehatan,” tambahnya.
Menkes Budi menegaskan bahwa hubungan yang kuat antara dua negara tidak hanya bergantung pada kemitraan tingkat pemerintah atau bisnis, tetapi juga pada interaksi antar masyarakat, terutama di sektor kesehatan. “Koneksi antar negara yang kuat terjadi pada tingkat rakyat. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara dokter dan tenaga medis dari kedua negara adalah cara terbaik untuk mempererat hubungan yang ada,” bebernya.
Budi menambahi, dengan adanya MoU ini, diharapkan kerja sama di sektor kesehatan, termasuk pertukaran tenaga medis, digitalisasi sistem kesehatan, serta peningkatan kapasitas produksi vaksin, dapat lebih maksimal. Hal ini juga menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan kesehatan global. (sic)


