WARTALENTERA-Industri Mamin (makanan dan minuman) Indonesia berhasil meraup USD43,7 juta atau sekitar Rp736 miliar dari Pameran Food and Hotel Asia (FHA) 2025 di Singapore Expo, Singapura pada 8-11 April 2025. Di tengah kebijakan baru Trump soal kenaikan cukai impor 34% persen yang dibebani untuk Indonesia dan membuat industri Mamin (makanan dan minuman) resah, ada secercah harapan dari Negeri Singa.
Itu artinya, Singapura menjadi pasar potensial produk Mamin Indonesia. Duta Besar RI untuk Singapura Suryo Pratomo mengatakan, bahwa produk-produk yang ditawarkan di Paviliun Indonesia merupakan hasil koordinasi Kementerian Perdagangan RI melalui Atase Perdagangan (Atdag) Singapura dan KBRI Singapura.
“Partisipasi Indonesia pada FHA 2025 merupakan kolaborasi yang membanggakan dari pemerintah, perbankan badan usaha milik negara, Bank Indonesia hingga swasta. Momentum ini menggarisbawahi pentingnya upaya kolaboratif dalam mempromosikan produk Indonesia,” ujarnya, dalam keterangan pers yang diterima Selasa (15/4/2025).
Dalam pameran itu, sambungnya, nilai USD43,7 juta itu berasal dari tujuh kontrak ekspor senilai 32,2 juta dolar AS atau sekitar Rp542 miliar. Adapun produknya antara lain, kakao dan coklat, madu, hingga bumbu organik.
Selain itu, terdapat belasan potensi transaksi yang diestimasi mencapai USD11,5 juta atau hampir setara Rp194 miliar dengan produk yang diminati, antara lain mi instan, camilan organik, hingga aneka rempah. Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI Fajarini Puntodewi menambahkan, jika produk Mamin termasuk tulang punggung utama industri Indonesia.
Industri ini secara signifikan telah menyokong ekspor dalam lima tahun terakhir (2020-2024) dengan pertumbuhan 10,55 persen secara tahunan 2024. Ia pun berharap, agar promosi produk makanan dan minuman Indonesia terus dibangun melalui penguatan kerja sama berbagai sektor.
“Kemendag mendorong upaya promosi yang konsisten dan keberlanjutan melalui penguatan kerja sama dengan perbankan, badan-badan usaha milik negara, dan sektor lainnya secara sinergis,” kata Puntodewi.
Pada Januari 2025, total perdagangan Indonesia dengan Singapura tercatat sebesar USD2,27 miliar. Khusus untuk perdagangan nonmigas, ekspor Indonesia ke Singapura tercatat USD583,00 juta dan impor Indonesia dari Singapura USD549,20 juta.
Sementara itu, total perdagangan lima tahun (2020-2024) tumbuh dengan tren 9,42 persen. Total perdagangan pada 2024 tercatat sebesar USD33,72 miliar.
GAPMMI Soal Kenaikan Tarif Impor AS
Pada kesempatan terpisah sebelumnya, industri Mamin memprediksi, setidaknya terdapat tiga dampak utama dari tarif resiprokal yang dikenakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebesar 32% kepada Indonesia. Mulai dari kenaikan biaya produksi, penurunan ekspor, dan dampak pada pekerja.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman sempat mengatakan, dampak pertama yang akan terasa yakni, kenaikan biaya produksi. Dalam hal ini, Adhi menilai tarif impor akan meningkatkan biaya produksi industri nasional yang menggunakan bahan baku dari AS.
“Tarif impor akan meningkatkan biaya produksi industri nasional yang menggunakan bahan baku dari AS dan mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar internasional, serta meningkatkan harga jual produk di Indonesia,” ujar Adhi dalam siaran persnya, pekan lalu.
Kedua, kata dia, akan ada penurunan ekspor yang dipicu karena tingginya tarif suatu barang dari Indonesia saat akan dibeli konsumen atau pengusaha di Amerika Serikat serta negara tujuan ekspor lainnya, yang berdampak negatif pada kinerja dan pertumbuhan industri nasional.
Ia mengakui, AS merupakan pasar ekspor prioritas untuk beberapa produk unggulan Mamin dari Indonesia seperti produk kopi, kelapa, kakao, minyak sawit, lemak nabati, produk perikanan dan turunannya. Sebaliknya, industri Mamin di Indonesia juga mengimpor berbagai bahan baku industri dari AS, beberapa di antaranya gandum, kedelai, dan susu.
Sebagai gambaran, AS memang menjadi salah satu negara tujuan utama ekspor kopi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor kopi ke AS menempati posisi pertama yakni senilai USD215,5 juta pada 2023.
Ketiga, ia memastikan, akan ada dampak pada pekerja. Penurunan ekspor dapat mengancam lapangan kerja di sektor Mamin di Indonesia, di saat situasi ekonomi yang sedang lesu.
Maka itu, GAPMMI pun meminta pemerintah bisa melakukan negosiasi dengan pemerintah AS untuk mencari solusi yang lebih baik dan mengurangi dampak negatif tarif resiprokal tersebut. Selain itu, pemerintah bisa menganalisa dampak penerapan tarif secara menyeluruh dan memberikan dukungan kebijakan kepada industri Mamin untuk mengatasi kenaikan biaya produksi dan menjaga daya saing.
Di sisi lain, kata dia, GAPMMI juga meminta pemerintah bisa menciptakan stabilitas perekonomian nasional dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Termasuk, menurut dia, mendorong hilirisasi industri sektor agrobisnis dan substitusi impor bahan baku dengan bahan baku nasional pada jenis komoditas yang dimungkinkan.
Pemerintah juga diyakini bisa mempertahankan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebagai respons kenaikan bea masuk AS. Kebijakan ini telah terbukti meningkatkan permintaan produk manufaktur dalam negeri terutama dari belanja pemerintah.
Selain itu, GAPMMI juga meminta bantuan pemerintah untuk melakukan diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika Serikat. “GAPMMI berkomitmen untuk berkolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk menghadapi tantangan ini dan memastikan keberlanjutan industri makanan dan minuman Indonesia,” tuntasnya. (sic)


