Laporan Jurnalis Yunice Aprily Dari China

Menikmati Bebek Peking di Restoran Muslim Ziguangyuan, Hidangan Kaisar yang Melegenda

wartalentera.com
Tampilan restoran muslim Ziguangyuan yang menyajikan hidangan olahan serba bebek peking di Beijing, China. (Foto : Nice Aprily/Warta Lentera)

WARTALENTERA - Terkenal dengan potongannya yang tipis, kulit yang garing dengan daging berbentuk slice tipis nan gurih, yang lebih mantap bila dicocol dengan saus coklat kemerahan pekat nan kental dengan rasa gurih bersemu manis. Yup, itulah hidangan bebek peking. Makanan unggas itu berasal dari negeri tirai bambu, China. Tepatnya berasal dari Beijing. 

Di Indonesia, orang biasa menikmatinya di restoran di mall-mall besar. Bagaimana sebenarnya bila dinikmati di negara asalnya. Di Beijing awal November, suhunya mulai dingin, daun-daun pohon mulai menguning, tanda sebentar lagi akan gugur dan masuk musim dingin. Ditengah cuaca seperti ini, sangat nikmat makan yang hangat. Seperti sup bebek dan bebek peking. 

Baca juga: Mulai Buka Diri untuk Wisatawan Asing, Kota Hijau Kaya Oksigen Yichun

Sup bebeknya dibuat dari sisa olahan tulang dengan sedikit sisa daging bebek yang masih menempel. Hangat dan kuat rasa rempahnya. Tapi, disini yang menarik diulas adalah menu bebek pekingnya yang terkenal seantero dunia. 

Sejarah bebek Peking di Beijing bermula sebagai hidangan istimewa khusus untuk keluarga kekaisaran Tiongkok dan berkembang selama ratusan tahun hingga menjadi simbol kuliner nasional.

Asal usulnya bermula saat era Dinasti Yuan & Ming sekitar 1330. Resep ini kemudian berkembang dari bebek panggang Jinling (Nanjing). Ketika Kaisar Yongle memindahkan ibu kota ke Beijing pada tahun 1420, hidangan ini ikut dibawa dan mulai dikembangkan secara khusus di dapur istana. Restoran Pertama yang menyajikan yakni Bianyifang pada 1416 dan tercatat sebagai restoran tertua di Beijing yang masih menyajikan bebek panggang.

Bebek yang dipakai dipilih dari varietas lokal khusus, digantung hingga kering, dilapisi sirup manis atau cairan gula agar kulitnya renyah dan mengilap, lalu dipanggang menggunakan oven atau kayu bakar khusus.

Seiring berkembangnya pariwisata, untuk mengakomodir turis muslim, di Beijing mulai ada restoran yang menyajikan menu ini secara halal. Salah satunya yang tertua yakni Ziguangyuan. 

Seorang koki di restoran muslim Ziguangyuan tengah menyiapkan irisan-irisan bebek peking. (Foto : Nice Aprily/Warta Lentera)

Koki mengolahnya secara tradisional sesuai aslinya dan halal. "Setelah diolah, bebek diiris setipis mungkin. Tidak ada filosofi khusus. Tujuannya agar menghasilnya rasa daging yang lembut saat dimakan, baik itu dengan cara di wrap dengan kulit lumpia, ataupun saat dimakan langsung" terang manajer restoran, Kingsley di Beijing, Sabtu (7/11/2026).

Cara menikmati hidangan itu, aslinya dibungkus dengan kulit lumpia yang tipis, diberi irisan daun bawang muda, timun dan beberapa pelengkap lain. Kemudian ditutup, lalu dicocol dengan saus hoisin atau sweet bean sauce (tian mian jiang)  Tapi, ada cara lain yg lebih praktis, yakni tidak usah dibungkus, melainkan langsung hap, disantap dengan sausnya. 

Tampilang hidangan Kaisar yang kita sebut Bebek Peking. (Foto : Nice Aprily/Warta Lentera)

Orang Beijing berbeda lagi, mereka terkadang menyantapnya dengan gula pasir. Kulit yang renyah, dicelupkan atau ditaburi sedikit gula pasir. Cara ini menghasilkan sensasi rasa perpaduan antara gurihnya lemak bebek dan manisnya gula, yang lumer dimulut.

Anda tertarik ingin mencobanya? Jangan lupa saat berkunjung ke Beijing. Cobalah menikmatinya sendiri! (nic)

Editor : Nice Aprily

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru