BPOM Temukan 17 Persen Sampel MBG Positif Mengandung Bakteri

Reporter : Inge Mangkoe
Kepala BPOM Taruna Ikrar (Foto: IST)

WARTALENTERA - Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM sudah melakukan pengujian laboratorium pada sejumlah sampel pangan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hasilnya, BPOM menemukan 17 persen dari sampel yang diuji terkonfirmasi positif mengandung bakteri.

Hal ini ditegaskan Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Rabu (1/10/2025).

Baca juga: Kejaksaan Agung Geledah Kantor BGN, Karyawan Dilarang Masuk

"Mulai akhir Juli luar biasa, sangat meningkat kasus ini. Dan persoalan ini sebenarnya ada pada satuan pemenuhan pelayanan gizi (SPPG), bila kita menyelesaikan persoalannya, Insya Allah fase berikutnya tidak terjadi lagi," ujarnya menjelaskan.

Adapun 17 persen keracunan pada sampel MBG yang diuji, terkonfirmasi positif jenis bakteri staphylococcus aureus, bacillus cereus, dan salmonella.

BPOM juga menemukan senyawa kimia yang memicu keracunan pangan pada anak pasca mengonsumsi MBG, yakni histamin. Sebagai catatan, histamin kerap terdapat pada ikan tidak segar, terkontaminasi atau disimpan pada suhu dan sanitasi yang buruk.

Baca juga: Aplikasi Reviu MBG Resmi Meluncur, Libatkan Penerima Manfaat sebagai PIC

Makanan fermentasi juga tinggi histamin. Menimbulkan gejala ruam, gatal, pusing, berkeringat, rasa terbakar di mulut.

"Sedangkan yang tidak terkonfirmasi 86 persen, tetapi kita duga mengandung bakteri staphylococcus aureus, bacillus cereus, salmonella, escherichia coli, clostridium perfringens," lanjutnya.

Baca juga: Gas Elpiji 12 Kg Langka, Sejumlah SPPG di NTT Terpaksa Hentikan Operasional

"Tentu ini menjadi pembelajaran supaya tahap-tahap berikutnya kita bisa mencegah, karena prinsip kami bukan pangan kalau tidak aman," pungkasnya.

Adapun munculnya bakteri pada sampel MBG, dikarenakan penyajian, penyimpanan, serta bahan baku yang tidak segar. BPOM juga memberikan rekomendasi kepada Badan Gizi Nasional agar SPPG sebelumnya dibekali sertifikat HACCP Hazard Analysis and Critical Control Point, agar kasus tidak berulang di kemudian hari. (inx)

Editor : Inge Mangkoe

Nasional
Berita Populer
Berita Terbaru