WARTALENTERA - Rencana penampilan perdana kapal induk pertama Indonesia, KRI Sriwijaya (eks ITS Giuseppe Garibaldi), dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 TNI resmi dibatalkan.
Penundaan itu sejalan dengan keputusan Markas Besar TNI yang membatalkan seluruh agenda puncak perayaan meriah dan naval parade (parade kapal) demi memprioritaskan penugasan prajurit dalam penanganan bencana alam di berbagai wilayah Indonesia.
Baca juga: TNI AL Terjun Langsung Bantu Masyarakat Suku Asmat, Papua Selatan
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, mengonfirmasi bahwa acara puncak yang semula dijadwalkan berlangsung di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada 5 Oktober 2026, kini dipindahkan ke Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, dengan konsep upacara yang sederhana.
"Puncak peringatan dipindahkan karena banyak prajurit yang saat ini sedang melaksanakan penugasan penanganan bencana di lapangan. Sebagai bentuk keprihatinan dan empati terhadap situasi nasional, rencana pameran alutsista, defile, serta parade kapal (sailing pass) terpaksa ditiadakan," kata Muhammad Nas di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Sebelumnya, KRI Sriwijaya, kapal induk helikopter hibah dari pemerintah Italia yang baru saja bersandar di Dermaga 107 Tanjung Priok pada Jumat (18/9/2026) diproyeksikan menjadi daya tarik utama dalam Naval Parade di Teluk Jakarta pada 4 Oktober 2026. Kapal berbobot sekitar 14 ribu ton tersebut bahkan direncanakan bertindak sebagai kapal VVIP yang ditinjau langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Meskipun batal unjuk gigi di hadapan publik pada momentum HUT TNI, proses pengukuhan dan alih status kapal legendaris itu dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyatakan bahwa upacara serah terima resmi (shipnaming dan reflagging) atau pergantian bendera dari Italia ke bendera Merah Putih akan tetap dilaksanakan pada Kamis besok (24/9/2026).
"Prosesi alih status kapal dari AL Italia menjadi KRI tidak mengalami perubahan jadwal. Bendera Merah Putih akan resmi dikibarkan di atas kapal pada 24 September. Namun, untuk parade atau unjuk gigi di depan publik, kita harus mendahulukan urgensi kemanusiaan saat ini," tambah Kasal Laksamana TNI Muhammad Ali.
Baca juga: Perkuat Keamanan Maritim, Kopaska TNI AL Latihan Bersama US Navy SEAL
Setelah resmi menyandang nama KRI Sriwijaya dengan nomor lambung 100, kapal induk itu nantinya tidak langsung dioperasikan untuk misi tempur, melainkan akan masuk ke galangan PT PAL untuk menjalani pembenahan fisik, perbaikan mesin, serta modernisasi sistem (retrofit). Langkah itu dirancang agar kapal siap mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama memperkuat armada logistik nasional dalam penanggulangan bencana alam, termasuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini tengah melanda beberapa wilayah.
KRI Sriwijaya (eks ITS Giuseppe Garibaldi)
Asalnya, Kapal itu dirancang sebagai kapal induk ringan berkarakteristik kapal penjelajah (cruiser-carrier). Itu membuatnya memiliki sistem pertahanan mandiri yang jauh lebih agresif dibandingkan kapal induk standar Amerika Serikat yang umumnya murni mengandalkan kawalan kapal lain.
Namun, di tangan Indonesia, kapal penjelajah itu beralih fungsi. Desain awalnya dibuat untuk membantu lepas landas jarak pendek bagi pesawat jet tempur taktis STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing) seperti AV-8B Harrier II.
Baca juga: Danpuskopaska yang Baru, Antara Ikan dan Sayur Bening
Di bawah bendera TNI AL, kapal itu akan difungsikan sebagai kapal pangkalan helikopter raksasa dan pusat kendali drone (UAV Hub). Hanggar bawah dek seluas 1.400 meter persegi mampu menampung 18 hingga 20 helikopter kelas menengah hingga berat (seperti Black Hawk atau MI-17) untuk mempercepat mobilitas logistik dan evakuasi medis di wilayah bencana. Jadi, bukan untuk operasi pertempuran. (vit)
Berikut tabel kecanggihan teknologi KRI Sriwijaya :
Editor : Vita Kartono