WARTALENTERA-Beras untuk stok Ramadan 2025 aman. Hal itu dipastikan Perum Bulog yang saat ini menyimpan total 2 juta ton beras, terdiri dari 1,8 juta ton beras hasil serapan dari petani melalui skema public service obligation (PSO) dan 200.000 ton beras komersial.
Direktur Utama Bulog Wahyu Suparyono menyampaikan, jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang bulan Ramadan. “Kami optimis dengan stok 2 juta ton beras itu sudah sangat cukup untuk kebutuhan Ramadan nanti. Stok kita aman,” ujar Wahyu di Bulog Corporate University, Jakarta, dikutip Kamis (23/1/2025).
Bulog memproyeksikan, puncak panen serta surplus produksi beras konsumsi akan terjadi pada musim tanam pertama (MT I) yang berlangsung dari Februari hingga Mei 2025. Selain itu, Wahyu memastikan harga beras selama Ramadan tidak akan mengalami kenaikan signifikan.
Sebab, Bulog membeli beras dari petani dengan harga Rp12.000 per kilogram. Apabila diperlukan, Bulog juga siap melakukan stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) untuk menjaga kestabilan harga di pasaran.
Pada 2025, Bulog ditargetkan menyerap 3 juta ton setara beras, meningkat 1 juta ton dari target sebelumnya sebesar 2 juta ton. Meski demikian, ia mengakui, tengah menghadapi tantangan terkait keterbatasan kapasitas gudang.
Saat ini, gudang Bulog hanya mampu menampung hingga 3,5 juta ton beras. Dari total kapasitas tersebut, 2 juta ton sudah digunakan untuk menyimpan stok beras, sementara 10 persen ruang dialokasikan sebagai area pengemasan.
Untuk mengatasi keterbatasan ini, Bulog menggandeng TNI memanfaatkan gudang yang tidak terpakai, serta meminta bantuan Kementerian Perdagangan melalui Sistem Resi Gudang (SRG). Selain itu, Bulog juga meminjam gudang milik ID Food untuk menampung hasil serapan beras dari petani.
Dengan strategi tersebut, Bulog optimistis dapat mengamankan stok dan pasokan beras serta menjaga stabilitas harga selama Ramadan 2025. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas sebelumnya telah memerintahkan Perum Bulog untuk menyerap 3 juta ton beras periode Januari-April 2025.
Hal tersebut guna memastikan ketersediaan stok beras di tengah dinamika kebutuhan pangan nasional. Zulhas menjelaskan, bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui pembahasan panjang dalam rapat koordinasi (rakor).
“Disepakati Bulog memang harus membeli sebanyak 3 juta ton dalam waktu yang pendek ini, yaitu Januari, Februari, Maret, April. 3 juta ton harus menyerap dalam bentuk beras,” ujar Zulhas kepada wartawan di Jakarta, dikutip Kamis (23/1/2025).
Ia juga menambahkan, bahwa jika pengadaan dilakukan dalam bentuk gabah, jumlahnya tentu akan lebih besar. Dalam rapat tersebut, disetujui harga pembelian gabah oleh Bulog sebesar Rp6.500 per kilogram (kg).
Sementara itu, harga beras dari pabrik-pabrik mitra Bulog disepakati sebesar Rp12 ribu per kg. “Karena pabrik kecil membeli Rp6.500, maka Bulog akan membeli berasnya Rp12 ribu,” imbuhnya.
Namun, politisi PAN itu mengungkapkan, bahwa ada diskusi panjang terkait kisaran harga beras yang diusulkan Bulog, mengingat persaingan dengan pihak lain dalam penyerapan stok. Bulog mengajukan rentang harga pembelian beras antara Rp12 ribu hingga Rp12.250 per kg untuk mencapai target 3 juta ton.
Ia menegaskan bahwa keputusan akhir harus menunggu persetujuan dari rapat terbatas (ratas). “Kami rakor sepakat, tapi belum menjadi keputusan. Setelah nanti kita akan bawa ke ratas dulu,” sebutnya.
Sedangkan untuk jagung, Zulhas menyampaikan pembelian dengan HPP Rp5.500 per kg akan dimulai pada 1 Februari 2025. “Sementara jagung, karena akan mulai panen bulan Februari maka jagung akan mulai dibeli 1 Februari dengan harga Rp5.500 per kg,” pungkasnya. (sic)


