x wartalentera.com skyscraper
x wartalentera.com skyscraper

Potensi Pasar OBA Luas, Kemenperin dan BRIN Dorong Inovasi di Industri Jamu dan Herbal

Editor :

WARTALENTERA-Potensi pasar OBA (Obat Bahan Alam) luas, Kemenperin (Kementerian Perindustrian) dan BRIN dorong inovasi di industri jamu dan herbal Indonesia. Kemenperin memperkirakan, pasar OBA di dunia bernilai USD200,95 miliar dan akan terus meningkat.

Sehingga, sangat penting melakukan sinergi antara ilmu pengetahuan dan warisan budaya dalam pengembangan produk jamu modern. Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Dr Sofa Fajriah, menegaskan, inovasi dalam industri jamu memiliki peran strategis dalam membangkitkan kembali kejayaan herbal Indonesia.

"Inovasi di sektor ini mencakup jamu siap minum, kombinasi jamu dengan superfood, probiotik, serta bahan aktif kosmetik untuk produk kecantikan," katanya, dalam rilis resmi Kosme Health, Selasa (20/5/2025).

Beberapa produk bahkan dikemas dalam bentuk yang lebih dekat dengan selera generasi muda, seperti boba herbal, sparkling herbal, hingga gummy herbal. Tren konsumen juga menunjukkan pergeseran signifikan.

Sebanyak 56 persen konsumen muda tertarik pada jamu jika dikemas secara praktis. Sementara WHO mencatat 70 persen masyarakat global kini beralih ke produk alami dan herbal pascapandemi COVID-19.

Didukung oleh kekayaan biodiversitas yakni lebih dari 30.000 spesies tanaman, dengan 7.500 di antaranya berkhasiat obat, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan produk herbal dunia. Pendiri Kosme Health, Shandy Purnamasari, menyebutkan bahwa jamu tidak harus dipersepsikan sebagai sesuatu yang kuno dan pahit.

"Kami ingin membawa jamu ke bentuk baru yang lebih bisa dinikmati generasi modern tanpa menghilangkan khasiatnya,” ujarnya. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu, Jony Yuwono, turut menyambut baik langkah ini.

"Ini bukan sekadar soal produk, tapi bagaimana kita memahami kembali filosofi jamu sebagai perpaduan antara doa, pengobatan, dan kearifan lokal,” ucapnya. Ia menilai, pendekatan seperti yang dilakukan Kosme bisa membuka peluang kolaborasi baru antarpelaku usaha jamu lintas skala.

Sofa lebih lanjut menambahkan, peran riset sangat penting untuk mengoptimalkan kekayaan alam tersebut. "Kami berharap inovasi seperti ini terus tumbuh, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen unggul untuk produk-produk herbal berstandar global,” imbuhnya.

Pemerintah juga turut mendorong pengembangan jamu melalui pendanaan riset, hibah bagi UKM, hingga promosi ekspor, seiring dengan meningkatnya daya saing industri herbal nasional. Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pengembangan industri OBA termasuk produk herbal lainnya perlu ditingkatkan agar mampu bersaing di pasar global.

"Berdasarkan penetapan pembangunan industri prioritas, industri produk herbal atau natural maupun sediaan herbal menjadi prioritas pembangunan tahun 2020-2035," kata Agus dalam keterangan resminya, Selasa (20/5/2025).

Hal ini juga tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Nasional, Rencana Induk Riset Nasional, dan Instruksi Presiden No. 6/2016 tentang Percepatan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan yang menempatkan pengembangan obat berbasis bahan alam sebagai salah satu pilar untuk penguatan industri farmasi di Indonesia. "Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional terbukti menjadi salah satu sektor penyumbang devisa yang signifikan," ujarnya.

Sebab, pada 2023, nilai ekspor untuk produk industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional mencapai peningkatan sebesar 8,78 persen dengan nilai ekspor sebesar USD543,7 juta. Terlebih lagi, peluang tersebut didukung dengan penggunaan OBA, khususnya jamu yang telah menjadi suatu budaya di Indonesia.

Plus, pada 6 Desember 2023, jamu telah resmi masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia ke-13 yang masuk ke dalam daftar UNESCO.  Saat ini, terdapat beberapa komponen perusahaan industri obat bahan alam di Indonesia, yaitu Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA), dan Industri Obat Tradisional (IOT), yang telah menghasilkan 17.000 obat bahan alam golongan jamu, 79 jenis obat herbal terstandar dan 22 jenis fitofarmaka.

"Kementerian Perindustrian terus mendorong dan melakukan pembinaan agar industri kecil dapat naik kelas sehingga produksi obat bahan alam dapat ditingkatkan terutama fitofarmaka yang berpotensi besar untuk menjadi substitusi bahan baku obat impor dalam menuju kemandirian bahan baku obat nasional,” tegasnya.

Menurut riset, pasar obat tradisional Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan laju CAGR 7,1 persen selama 2024–2033, dengan estimasi nilai pasar mencapai USD25,4 miliar pada akhir periode. (sic)

Berita Terbaru
Rabu, 28 Okt 2026 11:03 WIB

Penghargaan Samkaryanugraha Diberikan Kepada 4 Satuan TNI AL

Presiden Prabowo Subianto memberikan penghargaan Samkaryanugraha kepada empat satuan TNI AL.
Rabu, 28 Okt 2026 09:04 WIB

Unjuk Rasa Mahasiswa BEM UI, Hindari Kawasan Monas dan Bundaran HI

Demo Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama koalisi masyarakat sipil berjalan tertib.
Selasa, 27 Okt 2026 22:06 WIB

Putra Daerah Ini Mampu Sabet Gelar Juara Kejurnas Tinju Amatir Pertina 2026

Pelajar SMAN 10 Galang, Batam Rempang meraih medali perunggu di Kejurnas Tinju Amatir Pertina 2026.
Senin, 26 Okt 2026 19:47 WIB

Bangun 100 Sekolah Rakyat di 32 Provinsi, Serap 97 Ribu Tenaga Kerja

Pemerintah telah membangun Sekolah Rakyat Tahap II di 100 lokasi dengan daya tampung 122 ribu siswa.
Senin, 26 Okt 2026 13:01 WIB

Perkuat Tata Kelola Arus Saham, BEI Tambah Anggota HSC

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan keanggotaan Komite High Shareholding Concentration (HSC) yang baru.
Minggu, 25 Okt 2026 13:29 WIB

Dari Gelaran WCCE 2026 hingga Eksistensi Pasar Wiwitan di SCBD

Ekonomi kreatif harus menjadi pemersatu tanpa perbedaan. Disampaikan di forum WCCE 2026.