x wartalentera.com skyscraper
x wartalentera.com skyscraper

Pelaku Remaja Pembunuh Ayah dan Nenek di Bona Indah Masih Diperiksa Intensif

Editor :

WARTALENTERA - Pelaku remaja berinisial MAS (14), pembunuh ayah dan nenek di Bona Indah, Cilandak, Jakarta Selatan masih menjalani pemeriksaan intensif usai resmi ditetapkan sebagai tersangka. Polisi terus mendalami motif dibalik peristiwa keji yang juga menyebabkan ibu pelaku menjadi korban luka tusuk dan hingga kini masih menjalani perawatan di RS Fatmawati.

Psikolog Forensik Reza Indragiri ikut menyoroti kasus anak membunuh ayah kandung dan nenek di Cilandak, Jakarta Selatan. Reza meyakini ada lima hal yang perlu digali guna membongkar motif pelaku berinisial MAS yang masih 14 tahun.

Pertama, ia mendorong agar penyidik mencari tahu kondisi mental tertentu yang dimiliki MAS. Apalagi kalau ada kondisi khusus yang sifatnya bawaan.

"Sekaligus, adakah kemungkinan bahwa yang bersangkutan menyalahgunakan zat-zat terlarang, baik itu narkotika, psikotropika, maupun zat adiktif lainnya," kata Reza, melansir republika, Selasa (3/12/2024). Kedua, Reza meminta dicari tahu soal fantasi kekerasan yang ada pada diri MAS.

Caranya, dengan menelusuri informasi yang dikonsumsi MAS. "Bicara tentang fantasi kekerasan, berarti relevan bagi kita untuk mencoba mengidentifikasi, apa saja yang dia baca, situs apa saja yang dia kunjungi, film seperti apa saja yang dia saksikan, dan mimpi-mimpinya seperti apa," rincinya.

Sebab, ia meyakini, melalui penelusuran tersebut, akan berbuah hasil pada cara MAS mengekspresikan diri. "Ini akan membantu memahami tentang bagaimana anak ini mengekspresikan atau membangun fantasi-fantasi tentang kekerasan," paparnya.

Ketiga, Reza menganjurkan menganalisa pola pengekspresian amarah pada MAS sekaligus bagaimana cara mengekspresikan amarah. Hal ini guna mengetahui perbedaan MAS dengan anak-anak lain.

Keempat, ia mengusulkan agar mengecek stabilitas MAS di lingkungan pendidikannya. Hal tersebut guna mengetahui masalah yang dialami MAS di sekolah seperti soal pelajaran, hubungan dengan guru, dan temannya.

"Apakah dia pernah di-DO, pernah tidak naik kelas, mengalami kesulitan belajar, dan seterusnya," imbuh Reza lagi. Dan terakhir, Reza mendorong mencari tahu mengenai relasi sosialnya.

Ini mencakup hubungan MAS dengan teman sebaya, teman sekolah, tetangga, dan keluarganya. "Penelaahan terhadap kelima hal itu tadi, diharapkan dapat menyimpulkan faktor yang paling dominan yang melatarbelakangi perilaku nakal atau jahat dalam anak tersebut," ungkapnya.

Sedangkan Psikolog Klinis A Kasandra Putranto meminta pihak kepolisian yang menangani kasus itu memeriksa kebenaran pernyataan pelaku yang mengaku mendengar bisikan yang mengganggu. "Mencermati kasus anak 14 tahun sebagai tersangka pelaku pembunuhan ayah dan nenek serta melukai ibunya, beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan, antara lain pengakuan bahwa tersangka mendengar bisikan-bisikan yang mengganggu saat sulit tidur, perlu didalami lebih lanjut,” kata Kasandra, melansir tempo, Selasa (3/12/2024).

Lulusan Universitas Indonesia itu menyatakan, penyelidikan tersebut perlu melibatkan psikolog forensik untuk mengetahui apakah keterangan anak itu layak dipercaya dan diterima sebagai kemungkinan adanya gangguan mental atau psikosis. Termasuk, lanjut dia, rangkaian pelaku yang mengawali kejadian dan setelah kejadian, seperti tidak bisa tidur, mengambil senjata tajam yang digunakan untuk melukai dan menghilangkan nyawa korban, berapa tusukan yang dilakukan, kapan dan di mana tepatnya perbuatan dilakukan, sampai tindakan membuang pisau, meninggalkan tempat kejadian perkara, itu akan menjelaskan perbuatan pidananya.

Hal selanjutnya yang perlu diperiksa secara lebih mendalam adalah pengaruh lingkungan. Psikolog forensik akan mempertimbangkan berbagai faktor, baik genetik, pola asuh, situasional, maupun lingkungan, termasuk hubungan keluarga dan potensi tekanan yang mungkin dialami pelaku.

"Dalam beberapa kasus, lingkungan yang tidak stabil dapat berkontribusi pada perilaku agresif,” ucapnya. Terkait proses hukum, kepolisian dan psikolog forensik akan bekerja sama memberikan analisis yang mendalam mengenai kondisi pelaku.

Hasil evaluasi ini dapat mempengaruhi proses hukum, mulai dari penyelidikan, penyidikan, tuntutan, dan peradilan. Melalui kasus tersebut, Kasandra menilai amat penting untuk memberikan penanganan psikologis yang tepat bagi tersangka pelaku.

Terutama, jika terbukti ada indikasi gangguan mental untuk memastikan tersangka pelaku yang masih di bawah umur mendapatkan penanganan yang sesuai aturan yang berlaku. "Kasus ini juga menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental, terutama di kalangan remaja. Edukasi dan dukungan dari keluarga dapat mencegah kejadian serupa di masa depan,” harapnya.

Kasandra juga mengatakan belajar dari kasus tersebut, ada beberapa perubahan sikap yang perlu diwaspadai orang tua atau wali yang bisa menjadi tanda anak mungkin mengalami gangguan mental. Misalnya, ada perubahan emosional yang drastis, perubahan pola tidur atau makan, penurunan prestasi akademik, perubahan sosial yang memungkinkan anak mengisolasi diri atau mengalami perubahan lingkaran sosial.

Termasuk juga, kata dia, perubahan perilaku dan tindakan yang merusak diri sendiri, termasuk perubahan fisik yang mencolok, adanya pikiran atau percakapan tentang bunuh diri hingga tanda-tanda gangguan psikotik. Sementara itu, AKBP Gogo Galesung mengaku telah menggandeng tim psikolog forensik untuk mendalami kepribadian pelaku.

Pemeriksaan terhadap pelaku anak ini pun masih berlangsung untuk mendalami motif pasti pembunuhan. "Penyidik meyakini sampai sekarang perkaranya sudah. Tinggal kita ingin mencari motifnya apa dari anak ini yang berumur 14 tahun, anak tunggal bisa melakukan hal ini. Bisa menghabisi ayah, nenek sampai ingin membuat ibunya cedera serius,” paparnya.

Sebelumnya diberitakan, pelaku MAS menghabisi nyawa ayah berinisial APW (40 tahun) dan neneknya RM (69 tahun). Sedangkan Ibu pelaku atas nama AP (40 tahun) terluka dalam kejadian nahas Sabtu (30/11/2024) dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Kejadian ini terungkap ketika petugas keamanan memperoleh informasi ada pembacokan di rumah Blok B6 Nomor 12. Petugas lalu mengecek lokasi mendapati AP bersimbah darah. (sic)

Berita Terbaru
Kamis, 29 Okt 2026 08:23 WIB

Pemerintah Singapura Panggil Perusahaan Terduga Pemicu Kabut Asap Lintas Batas

Pemerintah Singapura memanggil perusahaan yang diduga pemicu kabut asap lintas negara.
Rabu, 28 Okt 2026 11:03 WIB

Penghargaan Samkaryanugraha Diberikan Kepada 4 Satuan TNI AL

Presiden Prabowo Subianto memberikan penghargaan Samkaryanugraha kepada empat satuan TNI AL.
Rabu, 28 Okt 2026 09:04 WIB

Unjuk Rasa Mahasiswa BEM UI, Hindari Kawasan Monas dan Bundaran HI

Demo Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama koalisi masyarakat sipil berjalan tertib.
Selasa, 27 Okt 2026 22:06 WIB

Putra Daerah Ini Mampu Sabet Gelar Juara Kejurnas Tinju Amatir Pertina 2026

Pelajar SMAN 10 Galang, Batam Rempang meraih medali perunggu di Kejurnas Tinju Amatir Pertina 2026.
Senin, 26 Okt 2026 19:47 WIB

Bangun 100 Sekolah Rakyat di 32 Provinsi, Serap 97 Ribu Tenaga Kerja

Pemerintah telah membangun Sekolah Rakyat Tahap II di 100 lokasi dengan daya tampung 122 ribu siswa.
Senin, 26 Okt 2026 13:01 WIB

Perkuat Tata Kelola Arus Saham, BEI Tambah Anggota HSC

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan keanggotaan Komite High Shareholding Concentration (HSC) yang baru.