WARTALENTERA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti tengah menggodok kebijakan matematika diterapkap sejak jenjang Taman Kanak-Kanak (TK). Namun, ia memastikan kebijakan itu tidak akan membebani anak dan orang tua.
Ia beralasan, matematika hingga kini masih menjadi momok bagi peserta didik di seluruh jenjang. Sehingga, mitos bahwa matematika itu sulit membuat pelajar enggan mempelajarinya.
“Mata pelajaran ini juga masih diajarkan dengan metode-metode lama sehingga sering kali sulit dipahami,” ungkapnya, dalam sebuah acara di Yogyakarta, dikutip Jumat (15/11/2024). Padahal, menurutnya, matematika yang diajarkan dengan cara sederhana bisa memudahkan siswa mempelajarinya.
“Kita terpaku cara-cara lama yang membuat kita tidak kreatif dalam membuat metode itu,” bebernya. Mitos tersebut, lanjutnya, harus dipatahkan dan diubah dengan dua cara.
Pertama, mengenalkan matematika sebagai logika, sistem berpikir, dan ilmu, sehingga siapapun mampu mempelajarinya. Kedua, mengkontekstualisasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya ingat ketika saya dapat nilai 5 MTK di MI, guru saya enteng menjawab “Enggak apa-apa Mu’ti. Matematika tidak masuk pertanyaan kubur”,” katanya, menirukan ucapan sang guru, kala itu.
“Setelah saya belajar tinggi, saya menyadari arti pentingnya matematika. Misalnya, bagaimana kita menetapkan arah kiblat, kan pakai matematika. Sudut dari Yogya ke Mekah itu sekian derajat. Tidak bisa kita menghadap kiblat dengan benar kalau tidak mengerti persudutan itu,” imbuhnya.


