WARTALENTERA – Perundingan Iran-AS di Pakistan gagal. Kedua negara yang sedang berperang itu tak mencapai kesepakatan apa pun.
Dilansir dari CNN Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan maraton dengan Iran tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen.
“Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya,” kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad, Minggu (12/4/2026) waktu setempat.
Pertanyaan mendesak sekarang adalah: apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah AS sekarang meningkatkan ketegangan atau kembali bernegosiasi?
- Perundingan Iran-AS ini digelar dalam kerangka “Islamabad Talks” yang difasilitasi dan dimediasi oleh Pakistan. Ini merupakan bagian dari upaya mengakhiri secara permanen perang AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026.
Pakistan sebelumnya juga memediasi gencatan senjata selama dua pekan pada awal pekan ini.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar memastikan berakhirnya perundingan Iran-AS tersebut, dan mendesak kedua pihak untuk tetap mematuhi komitmen terhadap gencatan senjata.
Ia berharap Washington dan Teheran melanjutkan keterlibatan dalam “semangat positif” guna mencapai perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan di kawasan.
Dar juga menegaskan bahwa Pakistan akan terus memainkan perannya dalam memfasilitasi keterlibatan dan dialog antara Iran dan AS “di hari-hari mendatang.”
Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance dan turut melibatkan utusan khusus Steve Witkoff serta menantu Presiden AS, Jared Kushner.
Perundingan mencakup beberapa putaran diskusi langsung dan tidak langsung yang difasilitasi oleh pejabat senior Pakistan, termasuk Panglima Angkatan Darat Asim Munir.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menggambarkan perundingan tersebut berlangsung intensif. Ia juga bilang, keberhasilan negosiasi ‘bergantung pada keseriusan dan itikad baik dari pihak lawan’.
Baqaei juga menyerukan kepada Washington untuk menahan diri dari ‘tuntutan yang berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum’. Ia meminta AS menerima ‘hak dan kepentingan sah’ Iran.
Di antara topik yang menurutnya sedang dibahas adalah Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan pengakhiran total perang di Iran.
Sebagai informasi, AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu menyebabkan gugurnya Ayatollah Ali Khamenei yang saat itu menjabat Pemimpin tertinggi Iran.
Iran langsung membalas dengan menyerang Israel dan berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk. Perang telah menyebabkan 2.076 orang tewas dan 26.500 orang terluka di Iran.
Selain itu, serangan balasan Iran telah menewaskan 26 orang dan melukai 7.451 orang di Israel. Serangan balasan Iran juga menewaskan 13 tentara AS dan melukai 200 tentara AS. (inx)


