WARTALENTERA-Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan kekhawatirannya terkait konflik India-Pakistan, dapat berdampak pada ekspor batu bara RI. Ia mengklaim, ekspor batu bara Indonesia ke India sejauh ini masih aman.
Meskipun tensi di Asia Selatan kini tengah panas akibat ketegangan antara India dan Pakistan. Bahlil juga mengakui, India merupakan salah satu pasar ekspor batu bara terbesar Indonesia.
“Masih aman. Sampai dengan hari ini kami melihat belum ada pergerakan apa-apa. Ya doain aja,” kata dia di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Sabtu (10/5/2025).
“Salah satu tujuan ekspor batu bara kita yang terbesar, salah satu di antaranya adalah India,” tegas Bahlil. Namun, ia menilai India bukan lah negara dengan luas wilayah daratan yang besar.
Oleh karena itu, ia berharap konflik India-Pakistan tidak sampai mengganggu pelabuhan-pelabuhan yang selama ini jadi pintu masuk batu bara Indonesia. “India itu kan besar, bukan negara kecil, negara besar dengan wilayah yang besar juga. Jadi mungkin yang lagi konflik, kita doakan agar tidak merupakan bagian dari negara atau dari wilayah yang menjadi tujuan ekspor batu bara kita,” harapnya.
Mengutip catatan BPS atau Badan Pusat Statistik, volume ekspor batu bara ke India mencapai 25,51 juta ton pada kuartal I 2025, dengan nilai USD1,36 miliar. Jumlah itu lebih besar dari realisasi ekspor batu bara RI ke China, sekitar 16,59 juta ton senilai USD965 juta.
Sebagai informasi, ketegangan antara India dan Pakistan semakin memanas setelah serangan militan di Pahalgam, bulan lalu. Ketegangan tersebut semakin meningkat setelah militer India melancarkan serangan ke wilayah Kashmir yang dikendalikan Pakistan.
Serangan itu, yang diklaim Pakistan menewaskan 26 warga sipil, semakin membawa kedua negara tetangga berkekuatan nuklir tersebut ke ambang perang. Kedua negara telah terlibat dalam beberapa konflik bersenjata sepanjang sejarahnya sejak memisahkan diri pada 1947.
Perang antara keduanya terjadi pada 1948, 1965, dan 1971, selain beberapa bentrokan lainnya. Sebagian besar konflik yang terjadi terkait perebutan wilayah Kashmir yang diklaim oleh keduanya.
Kedua negara memperoleh senjata nuklir pada 1990-an dan Kashmir dianggap sebagai salah satu titik konflik paling berbahaya di dunia. (sic)


