WARTALENTERA – Dari sejumlah nama menteri dan wakil menteri yang sudah resmi bekerja sebagai pembantu presiden dalam kabinet Merah Putih, ada satu sosok yang masih menjadi magnet publik. Adalah sosok pakar psikologi kognitif dan lulusan Harvard, Stella Christie yang kini menjabat menjadi Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Stella Christie mendampingi Satriyo Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kepopulerannya didapat, karena Stella dinilai sebagai sosok perempuan muda yang tidak hanya pintar, tapi punya selera fashion yang unik.
Berkacamata, tapi tidak tampak culun. Justru, penampilan fashion dan kacamata uniknya yang terlihat chic membuatnya gampang dikenali.
Stella Christie adalah seorang profesor dan guru besar dari Universitas Tsinghua. Dia juga merupakan seorang peneliti di universitas yang berlokasi di Beijing, China tersebut.
Dirangkum dari berbagai sumber, Rabu (30/10/2024), berikut profil Guru Besar dan Profesor Stella Christie.
Kacamata Unik jadi Ciri Khas
Penampilan Stella Christie terutama kacamata unik yang dikenakannya masih membuat banyak orang penasaran. Stella pun rupanya sadar kalau kacamata yang kerap dipakai olehnya cukup mencuri perhatian warganet.
Dia pun tidak ragu men-spill kacamata miliknya. Dia mengungkap fakta soal kacamatanya dengan menggunakan pendekatan ilmiah.
Hal itu diketahui dari unggahan di akun Instagram pribadinya, @prof.stellachristie. Sang profesor menjabarkan alasan ilmiah di balik sikap warganet yang tertarik dengan kacamatanya.
“Hai kawan-kawan semua, saya tahu akhir-akhir ini pada semua tertarik sama kacamata saya. Mungkin ada pertanyaan ya secara sains, kenapa tertarik sama kacamata saya? Apa jawabannya?” kata Wamen Stella Christie, dalam unggahannya pada 26 Oktober 2024, dikutip Rabu (30/10/2024).
Hal itu menurut ibu satu anak itu, berkaitan dengan statistik di otak manusia. Jadi, statistik tersebut memunculkan ekspektasi di dalam otak manusia yang mempengaruhi pandangan mereka terkait kacamata Stella Christie.
“Begini, karena otak kita itu menghitung segala sesuatu yang kita lihat. Kita itu punya statistik di otak kita, stastical mind. Statistik itu melihat benda-benda yang sudah ada. Dari kacamata-kacamata itu kebanyakan tidak ada tuh yang kayak begini, begini, begitu (seperti pola kacamata miliknya),” jelasnya.
“Kalian semua punya ekspektasi kalau kacamata itu harusnya begini dari statistik yang kalian tahu dari berbagai kacamata. Nah, karena kacamata saya lain dari ekspektasi kalian, itulah kalian jadi tertarik banget sama kacamata saya,” sambungnya.
Latar Belakang Pendidikan
Stella Christie adalah seorang profesor dan guru besar asal Indonesia. Ia lahir di Medan pada 11 Januari 1979.
Rekam jejak pendidikannya bisa dibilang sangat luar biasa. Stella Christie menyelesaikan gelar S1 dari Harvard University pada 2004 dan merupakan lulusan Fakultas Psikologi. Ia mendapat gelar Magna Cum Laude with Highest Honor.
Selesai mendapatkan gelar S1, Stella melanjutkan S2 dan S3 di Northwestern University dengan mengambil konsentrasi psikologi kognitif. Pada 2015 hingga 2016, Stella pernah menjadi peneliti tamu di Universitas Standford.
Pada 2012 hingga 2018, Stella menjadi Guru Besar di Swarthmore Colleges. Sejak 2018 hingga kini, Stella menjadi Guru Besar di Universitas Tsinghua.
Di kampus tersebut, ia bekerja sebagai pengajar di Departemen Psikologi, Ketua Riset di Laboratorium Otak dan Kecerdasan, dan Direktur Pusat Kognisi Anak. “Saya orang Indonesia asli, saya menyelesaikan gelar S1 dari Harvard University, S2 dan S3 dari Northwestern University. Dan saya sudah menjadi Guru Besar di Swarthmore Colleges, itu nomor 3 universitas paling baik di Amerika Serikat, dan sekarang menjabat Guru Besar Tsinghua University,” kata Stela kepada wartawan di lokasi, dilansir dari detikcom, Rabu (30/10/2024)
Tak hanya itu, Stella menjelaskan dirinya merupakan ilmuwan di bidang cognitive science. Dia mempelajari bagaimana manusia berpikir.
Stella banyak melakukan penelitian seputar cara kerja otak hingga relasinya dengan hal sosial. Menurutnya, manusia cerdas karena mampu berpikir secara relasional.
“Saya adalah ilmuwan bidang cognitive science, mempelajari bagaimana kita berpikir, jadi tentang otak dan cara pikiran yang memasukkan manusia, hewan, artificial intelligence (AI),” ucapnya.
Dari sederet jurnal yang dibuat, salah satu jurnal Stella bertajuk “Where hypotheses come from: Learning new relations by structural alignment” (dipublikasikan di Journal of Cognition and Development) yang dibuat bersama rekannya, D. Gentner, berhasil menyabet Editor’s Choice Award for Best Article.
Target sebagai Wamen
Stella Christie menjelaskan prioritas program yang akan dia jalankan di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dia mengatakan salah satunya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Tentu saja dari Kementerian Dikti Sains dan Teknologi fokus kami adalah pengembangan SDM dan bagaimana kita bisa mengeluarkan inovasi-inovasi baru,” kata Stella seusai dilantik di Istana Negara, Jakarta, dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (30/10/2024).
Menurut Stella, pengembangan SDM dan inovasi ini amat penting untuk mendukung program pemerintah. Dia mencontohkan program hilirisasi tak akan mungkin berjalan tanpa inovasi.
“Hilirisasi tak akan bisa terjadi tanpa inovasi dari sains dan teknologi. Itu tentu salah satu yang sangat penting yang harus kita galakkan dan perlu dukungan bersama,” yakinnya.
Stella memohon dukungan dari masyarakat untuk pengembangan pendidikan tinggi dan teknologi. Dia mengatakan semua pihak harus bahu-membahu.
“Kami akan bekerja memetakan yang sudah ada, memperbaiki yang sudah ada. Tapi juga membuat banyak hal yang bisa membangun negara ini melalui riset,” tuntasnya. (sic)


