WARTALENTERA – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mendarat di Pangkalan Udara Nur Khan, Islamabad pada Sabtu (11/4/2026). Diutus Presiden Donald Trump, Vance membawa misi yang hampir mustahil: Menjahit kembali hubungan yang robek dengan Iran dan mengakhiri perang yang telah membakar kawasan.
Setibanya di sana, JD Vance disambut secara militer oleh Marsekal Lapangan Asim Munir. Namun, di balik seremonial tersebut, atmosfer ketegangan terasa sangat kental.
Sebagai tuan rumah sekaligus mediator, Pakistan memikul beban sejarah untuk mendamaikan dua musuh bebuyutan ini. Kementerian Luar Negeri Pakistan memberikan pernyataan resmi yang penuh harap namun tetap hati-hati terkait dialog krusial ini.
“Harapan kami, kedua belah pihak bisa saling bertemu secara konstruktif, sekaligus menegaskan keinginan Pakistan yang akan terus memfasilitasi para pihak mencapai solusi yang berkelanjutan terkait konflik ini,” tegas perwakilan Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Satu hari sebelum JD Vance mendarat, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, telah lebih dulu tiba di Islamabad. Meski bersedia duduk satu meja, Teheran mengirimkan pesan dingin yang menunjukkan betapa terjalnya jalan menuju perdamaian.
Ghalibaf secara terang-terangan menyatakan keraguan mendalam terhadap komitmen Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump.
“Kami punya intensi yang baik, tapi belum percaya sepenuhnya,” ujar Ghalibaf dengan tajam.
Ia menambahkan, “Pengalaman kami, mencapai kesepakatan dengan AS selalu berujung dengan kegagalan dan janji yang tak ditepati.”
Delegasi yang diturunkan kedua negara menunjukkan bahwa ini bukan sekadar pertemuan diplomatik biasa, melainkan negosiasi tingkat tinggi yang melibatkan sektor finansial dan keamanan nasional.
JD Vance didampingi oleh dua sosok kepercayaan Trump, yaitu Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Trump yang memiliki rekam jejak panjang dalam negosiasi Timur Tengah. Sedangkan delegasi Iran membawa gerbong kuat termasuk Menlu Abbas Araghchi, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Ali Akbar Ahmadian, hingga Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati.
Kehadiran Gubernur Bank Sentral Iran mengisyaratkan bahwa isu sanksi ekonomi dan stabilitas mata uang akan menjadi komoditas tawar-menawar yang sangat panas dalam pertemuan satu hari tersebut.
Dunia memantau hasil pertemuan ini dengan napas tertahan. Taruhannya tidak main-main. Belum lama ini, Trump mengumumkan gencatan senjata dua pekan, yang langsung diikuti langkah berani Iran membuka kembali Selat Hormuz.
Mengingat selat ini adalah jalur bagi 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia, kegagalan diplomasi di Islamabad malam ini bisa berarti bencana bagi harga energi global. Kantor Berita Tasnim melaporkan bahwa perundingan akan dimulai Sabtu malam, sementara TV Pemerintah Iran (IRIB) menegaskan bahwa mereka siap menghadapi skenario terburuk: “Pulang tanpa kesepakatan apa pun.” (inx)


